Pemimpin yang Sesungguhnya Tidak Terjebak Pencitraan

Akhmad Wahyuni, S.Sos., M.IP. Foto/IST
 

POSSINDO.COM, OPINI - Pemimpin adalah seorang leader, dan seorang leader sejatinya adalah pemimpin. Keduanya tidak dapat dipisahkan, karena esensinya sama: kemampuan untuk menggerakkan, membimbing, dan mengarahkan orang lain atau kelompok untuk bekerja bersama mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Seorang pemimpin yang ideal harus mampu melihat jauh ke depan memahami gambaran besar dan merumuskannya menjadi sebuah visi yang jelas. Visi itu kemudian dijabarkan melalui misi yang realistis dan terukur, sehingga arah pembangunan tidak sekadar retorika tetapi memiliki pijakan yang kuat.

Di tingkat daerah, tugas seorang kepala daerah semakin berat. Mereka bukan hanya dituntut memiliki kompetensi, tetapi juga integritas yang tinggi. Tanpa integritas, kepercayaan publik akan rapuh. Seorang pemimpin yang baik harus mampu memberikan motivasi, menjadi penggerak, dan pada saat-saat kritis berani mengambil keputusan meskipun keputusan itu mungkin tidak populer dan berisiko menurunkan citra politiknya. Pemimpin yang hanya mencari pujian tidak akan pernah mampu membawa perubahan.

Karena itu, kepala daerah seharusnya memusatkan seluruh energinya pada pencapaian visi dan misi yang telah ditetapkan dan bahkan sudah dituangkan dalam peraturan daerah. Inilah kontrak moral sekaligus kontrak politik antara pemimpin dan masyarakat yang dipimpinnya. Namun kenyataannya, tidak sedikit pemimpin daerah yang masih terjebak dalam pola pikir kampanye. Mereka terlalu sibuk membangun pencitraan, seolah-olah masa kampanye belum usai. Waktu dan sumber daya lebih banyak dihabiskan untuk mempertahankan popularitas daripada bekerja mewujudkan janji-janji yang pernah diucapkan.

Padahal, setelah dilantik, seorang pemimpin bukan lagi kandidat yang mengejar dukungan, melainkan pelayan publik yang harus menepati janji. Masyarakat tidak membutuhkan pemimpin yang selalu ingin terlihat hebat, tetapi membutuhkan pemimpin yang benar-benar bekerja pemimpin yang mampu menghadirkan perubahan nyata, bukan sekadar mengelola persepsi.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah seberapa sering ia tampil di media, tetapi seberapa besar amanah yang mampu ia wujudkan. Pemimpin sejati adalah mereka yang bekerja dalam senyap tetapi hasilnya terasa, bukan mereka yang bising tetapi minim karya.

Oleh : Akhmad Wahyuni, S.Sos., M.IP.

Penulis merupakan pensiunan ASN di lingkup Pemerintah Daerah Kabupaten Barito Kuala, Alumni APDN Banjarbaru  dan Program Magister Ilmu Pemerintahan Univ. Lambung Mangkurat.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال