POSSINDO.COM, Ekonomi - PT Anugrah Neo Energy Materials disebut tengah bersiap untuk mencatatkan perdana umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BE) akhir tahun ini. Bahkan, berdasarkan rumor pasar, Neo Energy disebut tengah melaksanakan proses Pre-Deal Investor Education (PDIE).
Rumor yang
beredar itu juga menyebut bahwa raksasa baterai ternama sekaligus mitra
strategis Volkswagen Group asal Cina, Gotion High-Tech akan resmi bergabung
sebagai mitra strategis Neo Energy.
Skemanya,
Gotion dikabarkan akan mengambil porsi saham pada proyek HPAL (High-Pressure
Acid Leaching) milik ANEM. Perusahaan juga akan menyediakan transfer teknologi
dan jaminan pembelian (offtake) untuk produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).
Selain itu,
Gotion juga disebut akan bertindak sebagai standby buyer dalam rencana IPO
ANEM. Namun hingga saat ini belum diketahui berapa besaran porsi dan nilai
investasinya. Perusahaan juga belum menyampaikan jadwal hingga berapa jumlah
saham yang ditebar saat IPO
Saat ini,
operasi utama Neo Energy berpusat di dua kawasan industri hijau berstatus
Proyek Strategis Nasional (PSN), yakni Neo Energy Morowali Industrial Estate
(NEMIE) dan Neo Energy Parimo Industrial Estate (NEPIE). Kedua kawasan ini akan
dilengkapi pelabuhan laut dalam, PLTA, dan solar farm sebagai wujud komitmen
perusahaan terhadap energi berkelanjutan.
Tak hanya
itu, Neo Energy menyatakan komitmen untuk mendukung pengembangan industri
baterai kendaraan listrik (EV) global. Berdasarkan laman resmi perusahaan, Neo
Energy menyediakan bahan baku berkualitas tinggi serta mendorong inovasi di seluruh
rantai nilai baterai EV, mulai dari proses penambangan dan pengolahan hingga
pengembangan teknologi katoda canggih. Perusahaan juga mengintegrasikan energi
terbarukan dalam kegiatan operasionalnya.
Dalam visi
jangka panjangnya, Neo Energy punya ambisi menjadi pemimpin dalam produksi
nikel ramah lingkungan dan pengembangan bahan energi baru untuk mempercepat
transisi menuju masa depan bebas emisi karbon.
Adapun
misinya berfokus pada percepatan ekonomi hijau melalui pengelolaan komoditas
secara bertanggung jawab dan pemanfaatan energi terbarukan yang berdampak. Pada
2024, penjualan bijih nikel Neo Energi mencapai 2,2 juta wmt.
“Kami juga
mendapatkan persetujuan RKAB baru dengan kapasitas produksi maksimum 2,5 juta
wmt hingga 2026,” ujar manajemen.
Baru
Akuisisi Aset Tambang Seiring dengan pengembangan usaha, perusahaan tercatat
baru memperluas basis dengan mengakuisisi PT Multi Dinar Karya (MDK), operator
konsesi pertambangan nikel Tojo Una-Una di Sulawesi Tengah.
Akuisisi
ini menambahkan tambang produksi kedua ke portofolio dan diversifikasi sumber
bijih nikel Dengan tambang Tojo Una-Una
MDK, Neo Energi berkeyakinan bisa memperkuat keamanan pasokan bijih untuk
pabrik pengolahan perusahaan kedepannya dan memperoleh skala yang lebih besar
dalam operasi hulu.
Penambahan
area konsesi baru tidak hanya meningkatkan cadangan dan potensi produksi,
tetapi juga semakin memperkuat posisi perusahaan sebagai penyedia terintegrasi
untuk pasar bahan baku baterai kendaraan listrik. Pada September 2024 lalu,
