
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan
Bursa Karbon Inarno Djajadi. Foto/OJK
POSSINDO.COM, Ekonomi - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap tantangan yang dihadapi oleh pasar modal dalam negeri bukan lagi mengenai ukuran kapitalisasi pasar (market cap), tapi kedalaman likuiditas.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Inarno Djajadi mengatakan kapitalisasi pasar saat ini cukup besar, tapi tidak sejalan dengan jumlah saham yang beredar di publik atau floating shares/ free float.
"Kalau dari sisi kapitalisasi pasar, kita itu yang paling besar dibandingkan dengan peers-kita, tetapi kalau misalnya dari sisi free float-nya di bawahnya, artinya kita bisa melihat bahwasannya IDX ini termasuk yang terkecil dibandingkan peers-nya," ujar Inarno dalam Rapat dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (3/12).
Inarno menyebutkan saat ini minimum free float bahkan di angka 7,5 persen. Sementara, negara tetangga rata-rata di atas 25 persen minimal jumlah saham beredarnya.
"Kalau dibandingkan dengan peers itu kita masih yang paling kecil," imbuhnya.
Ia membagi floating share negara tetangga menjadi tiga kategori small cap, medium cap dan big cap.
"Yang small cap itu porsinya adalah 23,58 persen, yang medium cap itu adalah 21,84 persen, dan yang big cap itu 25,48 persen," katanya.
Oleh sebab itu, ia menilai memang perlu ada kebijakan baru untuk membenahi pasar modal dalam negeri. OJK pun akan menyiapkan kebijakan baru demi mendorong free float dalam negeri bisa lebih tinggi.
"Untuk itu, OJK menyiapkan kebijakan free float dengan dua pendekatan utama, yakni initial free float dan continuous free float," ujar Ketua DK OJK Mahendra Siregar dalam rapat yang sama.
Sumber : cnnindonesia.com