Lestarikan Warisan Intelektual, Dissiptaka Barito Utara Pamerkan Naskah Al Quran Berusia 1,5 Abad

Kondisi naskah kuno khutbah Idul Fitri tahun 1933 yang kini telah terdaftar dalam sistem Khastara Perpustakaan Nasional, (24/02/2026). Foto/IST

POSSINDO.COM, Muara Teweh
Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dissiptaka) Kabupaten Barito Utara menyelenggarakan pameran literatur sejarah berupa naskah-naskah kuno bernilai tinggi yang dipusatkan di Gedung Perpustakaan Daerah setempat mulai (24/02/2026). Eksibisi ini menampilkan berbagai dokumen otentik tulisan tangan masa lampau yang menjadi bukti otentik perkembangan peradaban, nilai budaya, serta kekayaan ilmu pengetahuan yang pernah tumbuh di wilayah Barito Utara.

Kepala Dissiptaka Barito Utara, Fakhri Fauzi, menjelaskan bahwa agenda yang berlangsung hingga pertengahan Maret ini bertujuan untuk membangkitkan kebanggaan kolektif terhadap identitas daerah. Penyelenggara ingin memastikan bahwa "Kegiatan ini untuk mengenalkan, melestarikan, dan mengedukasi masyarakat, terutama generasi muda, mengenai nilai- nilai luhur, budaya, serta jati diri bangsa yang terkandung dalam warisan intelektual masa lalu," kata Fakhri Fauzi di Muara Teweh, Selasa.

Koleksi utama yang menjadi pusat perhatian pengunjung adalah naskah Al Quran tulisan tangan karya H.M. Tasin yang dibuat pada tahun 1870 silam. Dokumen suci yang telah melintasi zaman selama 156 tahun tersebut menjadi bukti ketekunan ulama lokal dalam menyiarkan ajaran agama di Kalimantan. Fakhri yang didampingi Pustakawan Firdausi Nuzulla mengungkapkan bahwa "Naskah khutbah yang ditulis H Abdul Aziz telah berumur 83 tahun dan naskah khutbah yang ditulis H Abdullah berusia 93 tahun," ujarnya merujuk pada koleksi naskah khutbah bersejarah lainnya.

Dua dokumen khutbah hari raya yang ditulis pada medio 1933 dan sebelum 1943 oleh tokoh-tokoh penting Muara Teweh kini telah berhasil mendapatkan pengakuan secara nasional. Upaya perlindungan terhadap fisik dokumen yang mulai rapuh ini terus dipacu agar isinya tetap bisa dipelajari oleh para peneliti di masa mendatang. "Untuk Al Quran dalam proses alih media untuk didaftarkan ke Khastara Perpusnas RI," ucap Fakhri menjelaskan mengenai status registrasi digital koleksi yang sedang dipamerkan tersebut.

Pemerintah daerah mengundang masyarakat yang masih menyimpan dokumen bersejarah berusia minimal lima dekade untuk bersedia dikerjasamakan dalam proses digitalisasi. Melalui portal Khastara, naskah yang tadinya tersembunyi kini dapat dipelajari secara luas tanpa risiko merusak fisik aslinya yang sangat rentan. "Setelah proses alih media (digitalisasi) selesai, naskah fisik akan segera dikembalikan kepada pemilik dalam kondisi yang lebih bersih dan terawat," tuturnya guna meyakinkan para pemilik naskah kuno.

Penerapan teknologi digital dalam dunia kearsipan ini dianggap sebagai langkah revolusioner untuk mempermudah aksesibilitas data sejarah bagi dunia akademis secara global. Dengan tersedianya data di internet, para ilmuwan tidak perlu lagi melakukan perjalanan fisik yang jauh hanya untuk menelaah isi naskah asli. "Ini juga membuka peluang bagi para peneliti, akademisi, dan masyarakat umum untuk mempelajari, meneliti, dan memanfaatkan naskah kuno tanpa harus berkunjung langsung ke lokasi penyimpanannya," jelas Fakhri lebih mendalam.

Sebagai penutup, seluruh aktivitas pameran ini merujuk pada amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang pentingnya penyelamatan dokumen yang memiliki arti penting bagi kebudayaan nasional. Dissiptaka berharap pameran ini menjadi titik awal bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap benda-benda bersejarah yang ada di lingkungan keluarga masing-masing. "Kegiatan ini berfungsi sebagai sarana apresiasi, sumber edukasi sejarah, dan upaya penyelamatan naskah dari kepunahan," pungkas Fakhri Fauzi mengakhiri penjelasannya. (Wan)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال