Merawat Baja, Menempa Makna: Kisah Muhammad Noor dan Ahza Knife

Muhammad Noor, pengerajin Pisau dari Baja saat memperlihatkan produk olahan pisau dibengkel miliknya. Foto/Dika

POSSINDO.COM- Di depan sebuah rumah sederhana di Kelurahan Pulang Pisau, denting logam dan suara gerinda sering terdengar memecah sunyi akhir pekan. Di sanalah Muhammad Noor, atau yang akrab disapa Amad, menghabiskan waktu luangnya. Bukan untuk beristirahat, melainkan untuk menempa baja menjadi berbagai aneka pisau yang sarat fungsi dan makna.

Perjalanan Amad ke dunia pengrajin pisau tidak dimulai dari bengkel atau pendidikan teknik, melainkan dari sebuah hobi sederhana, yaitu memancing. Sejak tahun 2015, pisau menjadi alat yang selalu menemaninya. Dari sekadar alat bantu, pisau perlahan berubah menjadi benda yang membuatnya penasaran, tentang ketajaman, bahan, dan mengapa satu pisau bisa jauh lebih baik dari yang lain.

Rasa penasaran itu membawanya ke berbagai grup pisau di internet. Awalnya, Amad hanya membeli dan menjual kembali pisau. Namun dari diskusi-diskusi dan tutorial yang ia temukan, tumbuh keinginan untuk membuat pisau dengan tangannya sendiri. Dari situlah proses belajar dimulai pelan, otodidak, dan penuh trial and error.

Lekat dengan Penempaan Baja

Muhammad Noor saat mengolah besi baja menjadi Pisau dengan mesin sederhana miliknya. Foto/Dika

Bagi Amad, pisau bukan sekadar besi yang diasah tajam. “Baja itu punya karakter,” kurang lebih begitu pandangannya. Setiap jenis baja memiliki sifat berbeda tentang keras, lentur, dan daya tahan. Semua itu berkaitan erat dengan ilmu fisika, sesuatu yang membuat dunia pisau justru semakin menarik meski terlihat sederhana.

Pisau juga memiliki nilai yang lebih luas dalam kehidupan. Selain digunakan untuk memasak, pisau memiliki peran penting dalam aktivitas keagamaan, khususnya penyembelihan hewan qurban. Amad sendiri merupakan anggota Juleha (Juru Sembelih Halal), sehingga apa yang ia buat bukan hanya alat, tetapi juga amanah.

Lebih jauh lagi, baja baginya menyimpan nilai sejarah dan filosofi. Ia kerap mengingat kisah pedang Salahuddin Al-Ayyubi atau senjata-senjata Nusantara di masa kerajaan. Di tanah Kalimantan, filosofi “Waja Sampai Kaputing” yaitu baja sampai ke ujung dianggap menjadi simbol keteguhan dan tanggung jawab untuk menuntaskan perjuangan. Nilai itulah yang diam-diam ia bawa dalam setiap bilah pisau yang dibuatnya.

Mengolah Sendiri di Bengkel Depan Rumah

Dibengkel sederhana di depan rumah miliknya, Muhammad Noor dalam sepekan mampu memproduksi berbagai aneka pisau pesanan konsumen. Foto/Dika

Dalam proses produksi, Amad menggunakan metode stock removal, sebuah pendekatan semi-modern dengan alat seperti gerinda dan belt grinder. Meski dibantu mesin, sentuhan tangan tetap menjadi kunci. Ia menggunakan dua jenis bahan: baja modern dan baja limbah. Baja modern, seperti produk dari Austria, melalui proses pengerasan bersertifikasi di pabrik. Sementara baja limbah diolah dengan cara lebih tradisional, ditempa dan dikeraskan secara manual—mengandalkan pengalaman dan insting.

Waktu pengerjaan pun tidak singkat. Sebilah pisau bisa memakan waktu hingga satu bulan, terutama jika menggunakan baja modern. Semua dikerjakan di sela-sela pekerjaan utama, biasanya di akhir pekan. Dalam sebulan, sekitar sepuluh pisau berhasil ia hasilkan jumlah yang mungkin tidak besar, tetapi penuh perhatian pada kualitas. Dan semua ia kerjakan sendiri dibengkel depan rumahnya yang sederhana.

Punya Lisensi dan Branding dengan Nama Ahza Knife

Beberapa produk pisau olahan dirinya yang kerap dibeli anggota JULEHA ( Juru Sembelih Halal) dan pecinta Pisau di Pulang Pisau dan Kapuas. Foto/Dika

Usaha yang ia rintis diberi nama Ahza Knife, diambil dari nama anaknya. Sebuah pilihan yang sederhana, namun sarat makna: harapan, tanggung jawab, dan masa depan. Pisau-pisau buatan Ahza Knife dijual secara custom, dari pisau sembelihan hingga mandau, dengan harga yang menyesuaikan bahan dan prosesnya.

Promosi dilakukan lewat media sosial. Pesanan datang tidak hanya dari Pulang Pisau, tetapi juga dari luar daerah. Meski demikian, Amad tetap rendah hati. Baginya, yang terpenting bukan jumlah, melainkan menjaga kualitas dan kepercayaan.

Untuk anak muda, Amad punya pesan sederhana: hobi bisa menjadi jalan hidup jika ditekuni dengan sungguh-sungguh. Internet sudah membuka akses pengetahuan seluas-luasnya. Tinggal bagaimana seseorang mau belajar, memanfaatkan apa yang ada, dan konsisten menjalaninya.

Di bengkel kecilnya, Amad mungkin tidak sedang membuat senjata besar atau karya monumental. Namun dari baja yang ditempa dengan sabar, ia sedang merawat nilai: ketekunan, tanggung jawab, dan filosofi “baja sampai ke ujung” hingga menyelesaikan apa yang telah dimulai.

Bagaimana cara memesan Pisau buatannya?

Pesanan dapat dibuat secara custom sesuai selera. Pemesanan bisa dilakukan dengan datang langsung ke tempat di depan rumah, Jalan Hantasan Raya No. 038, RT 002, Kelurahan/Desa Pulang Pisau, tepat di depan SD 7 Pulang Pisau.

Pemesanan juga bisa dilakukan secara online melalui:
WhatsApp: 0823-5802-5522
Instagram: @ahzaknife2025
Facebook: @ahzaknife



Penulis : Dika
Editor : Dedy

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال