Mengenal 7 Fakta Unik Tradisi Nyepi di Bali: Dari Ogoh-Ogoh hingga Omed-Omedan

Pawai Ogoh-ogoh yang melambangkan Bhuta Kala saat memadati jalanan di Bali sehari sebelum Nyepi, (18/03/2026). Foto/Net

POSSINDO.COM, Nasional
Makna Nyepi bagi umat Hindu adalah merenungkan hidup dan memohon kepada Tuhan untuk menyempurnakan kesucian Bhuana Agung maupun Bhuana Alit, dalam menemukan jati diri sekaligus mendapatkan keseimbangan diri dan alam semesta. Berikut 7 hal unik saat tradisi Nyepi di Bali:

1. Menyepi selama 24 jam 

Saat merayakan Hari Suci Nyepi, umat hindu akan menyepi selama 24 jam dari pukul 06.00 hingga 06.00 esok hari. Kegiatan pertama yang dilakukan adalah amati geni atau tidak ada api yang menyala termasuk lampu. Selanjutnya, kegiatan kedua adalah amati karya yang tidak boleh melakukan kegiatan apapun termasuk makan dan minum. Kegiatan ketiga, yakni amati lelungan yang tidak boleh bepergian dan keluar rumah, kegiatan keempat, yakni amati lelanguan yang tidak boleh bersenang-senang seperti menonton TV ataupun bermain games.

2. Melasti

Melasti merupakan tradisi berupa sembahyang di laut yang dilakukan dua hari sebelum Nyepi. Umat Hindu percaya bahwa danau dan laut adalah sumber air suci yang disebut sebagai tirta amerta sehingga bisa menyucikan berbagai hal buruk mulai dari manusia hingga alam. Berbagai macam sarana persembahyangan diantarkan ke pantai untuk melakukan pembersihan dan penyucian, seperti menuntun Ida Bhatara atau sang Tuhan secara berbondong-bondong menuju pantai Bali, lalu melakukan sembahyang bersama di sekitar sumber air suci ini.

3. Upacara Bhuta Yadnya

Upacara Bhuta Yadnya dilakukan satu hari sebelum nyepi saat Tilem Sasih Kesanga. Makna adanya upacara Bhuta Yadnya ditujukan kepada Bhuta Kala, agar tidak mengganggu pelaksanaan Hari Raya Nyepi, sekaligus sebagai penetralisir hal-hal negatif jadi lebih positif dan segala tradisi nyepi dapat dijalankan dengan lancar.

4. Pengerupukan 

Pengerupukan, yakni kegiatan menyebarkan nasi tawur, memasang obor di rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, hingga memukul kentongan agar bersuara ramai dan gaduh selama melakukan tradisi pengerupukan ini.

5. Ogoh-ogoh 

Ogoh-ogoh merupakan tradisi dari karya seni patung kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Menurut ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan sebagai kekuatan alam semesta dan waktu yang tidak terukur dengan aneka ragam rupa, yang berarti unsur negatif, sifat buruk dan kejahatan yang dilakukan oleh manusia. Ogoh-ogoh biasanya dilakukan pawai mengelilingi kota tepat sehari sebelum tradisi Nyepi dimulai.

6. Tawur Agung Kesanga 

Tawur Agung Kesanga merupakan upacara pecaruan atau pengorbanan yang dilakukan sehari sebelum perayaan nyepi. Upacara ini dilakukan pada siang atau pagi hari di Bali yang dimulai dari provinsi di Pura Besakih, kabupaten di Catus Pata, yang dilanjutkan oleh kecamatan, desa, dusun, hingga rumah masing-masing. Upacara tawur kesanga menggunakan sesajen lengkap dengan binatang seperti ayam, bebek, angsa, sapi, dan anjing yang bertujuan untuk membebaskan alam semesta dari malapetaka yang dilakukan oleh Bhuta Kala.

7. Ngembak Geni dan Omed-Omedan

Ngembak geni dan omed-omedan merupakan tradisi umat Hindu tepat setelah menyelesaikan tradisi Nyepi. Ngembak geni membebaskan umat Hindu menyalakan api dan penerangan, serta bersilaturahmi saling memohon maaf kepada keluarga dan tetangga di sekitar rumah. Selain itu, omed-omedan adalah tradisi pelukan dan berciuman massal yang dilakukan pemuda pria dan wanita sembari disiram air guna menolak bala. 

Sumber: Tempo.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال