Rupiah Melemah Tajam, Ekonom Sebut Belum Separah Krisis 1998

 

Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Ekonom Minta Kondisi Diwaspadai. Foto/ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/Spt

POSSINDO.COM, Ekonomi - Nilai tukar rupiah anjlok hingga menembus level Rp17.500 per dolar AS pada Selasa (12/5), melampaui posisi terlemah saat pandemi covid-19.

Kurs mata uang Garuda bahkan mendekati titik psikologis yang dianggap rawan bagi pasar keuangan domestik. Pada penutupan perdagangan Selasa (12/5), rupiah berada di level Rp17.529 per dolar AS, melemah 115 poin dibanding perdagangan sebelumnya.

Lukman menjelaskan pelemahan rupiah akan berdampak luas terhadap ekonomi domestik karena membuat biaya impor semakin mahal seperti harga beli energi, bahan baku industri hingga pangan. Kenaikan ini ujungnya dapat mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Beban utang luar negeri pemerintah maupun swasta juga meningkat dalam nilai rupiah.

Namun di sisi lain, pelemahan kurs memberi keuntungan bagi eksportir berbasis dolar. Yang diuntungkan di antaranya eksportir batu bara, kelapa sawit (CPO), dan beberapa komoditas lainnya yang transaksinya berbasis dolar.

Sementara, sektor yang paling terpukul adalah industri yang bergantung besar pada impor atau memiliki utang dalam dolar AS.

"Industri penerbangan misalnya menghadapi kenaikan biaya avtur dan leasing pesawat yang mayoritas berbasis dolar. Sektor otomotif, elektronik, farmasi, dan manufaktur juga tertekan karena banyak menggunakan bahan baku impor sehingga biaya produksi meningkat," ujarnya.

Seberapa gawat kondisi jatuhnya nilai tukar rupiah pada ekonomi Tanah Air?

Meski jatuh ke level Rp17.500, ekonom menilai kondisi saat ini belum bisa disamakan dengan krisis moneter 1998. Fundamental ekonomi RI dinilai masih relatif lebih kuat dibanding periode krisis kala itu.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan rupiah saat ini memang sudah perlu diwaspadai, tetapi belum bisa dikategorikan sebagai krisis seperti 1998 karena saat ini fondasi ekonomi RI lebih tahan banting.

"Pelemahan rupiah jelas memberi tekanan besar, namun kondisi fundamental Indonesia masih jauh lebih baik dibanding era krisis: cadangan devisa masih relatif kuat, inflasi terkendali, perbankan stabil, dan pertumbuhan ekonomi masih positif," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Selasa (12/5).

Meski begitu, ia mengatakan peluang rupiah menembus level Rp18 ribu per dolar AS tetap terbuka apabila tekanan global semakin memburuk. Faktor terbesar saat ini adalah prospek suku bunga AS, harga minyak mentah dunia yang tinggi, dan keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang (emerging markets).

Menurutnya, pelemahan mata uang sebenarnya tidak hanya dialami Indonesia. Sejumlah mata uang Asia lain juga mengalami tekanan besar dalam sepekan terakhir. Won Korea, peso Filipina, rupee India dan beberapa mata uang Asia lain juga anjlok.

Sumber : cnnindonesia.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال