Hadapi Kabut Asap Karhutla, Ini Cara Menjaga Kesehatan agar Terhindar dari Gangguan Pernapasan

 

Di balik langit yang menguning dan jarak pandang yang menipis, ada bahaya yang tak kasat mata. Kabut asap karhutla bukan sekadar mengganggu aktivitas, tapi diam-diam menyusup hingga ke bagian terdalam paru-paru kita. Foto/ Ilustrasi Dibuat dengan AI/Kompas.com

POSSINDO.COM, RAGAM – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan. Paparan asap dalam jangka pendek dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan, memperburuk asma, hingga meningkatkan risiko gangguan pernapasan yang membutuhkan perawatan medis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa asap kebakaran mengandung partikel polutan yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah partikel halus PM2,5, yakni partikel berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat mencapai bagian terdalam paru-paru.

Risiko paparan asap perlu mendapat perhatian, terutama di wilayah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat perlu melakukan langkah pencegahan untuk mengurangi paparan, khususnya ketika kondisi udara memburuk.

Penelitian Ilmiah Ungkap Risiko Asap Kebakaran

Dampak asap kebakaran terhadap kesehatan telah dikaji dalam berbagai penelitian ilmiah. Sebuah tinjauan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Annual Review of Medicine pada 2024, berjudul Health Effects of Wildfire Smoke Exposure, menemukan bahwa paparan asap kebakaran berkaitan dengan peningkatan risiko kematian dari berbagai penyebab dan rawat inap akibat gangguan pernapasan.

Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa dampak paparan dapat berbeda berdasarkan tingkat paparan, karakteristik polutan, serta kondisi kesehatan seseorang. Karena itu, mengurangi paparan asap menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Sementara itu, tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal Environment International pada 2025 turut menemukan hubungan antara paparan partikel dari asap kebakaran dan peningkatan risiko rawat inap serta kunjungan ke unit gawat darurat akibat penyakit pernapasan.

Temuan ini memperkuat pentingnya langkah pencegahan, terutama ketika masyarakat harus beraktivitas di tengah kondisi udara yang tercemar asap.

1. Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Ketika kabut asap semakin pekat, masyarakat disarankan mengurangi kegiatan di luar rumah, terutama olahraga, pekerjaan fisik berat, atau aktivitas yang membuat napas menjadi lebih cepat.

Jika memungkinkan, tunda kegiatan luar ruangan sampai kondisi kualitas udara membaik. Masyarakat juga perlu mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan dari instansi berwenang sebelum menentukan aktivitas harian.

Langkah ini penting karena semakin besar paparan polusi dan semakin lama seseorang berada di lingkungan berasap, semakin besar pula peluang terpapar partikel berbahaya.

2. Gunakan Masker yang Tepat Saat Harus Keluar Rumah

Apabila harus beraktivitas di luar ruangan, gunakan respirator yang pas di wajah, seperti N95 atau standar setara yang sesuai, dan pastikan bagian hidung serta mulut tertutup rapat. Masker yang tidak terpasang dengan baik dapat mengurangi perlindungan terhadap partikel halus.

Namun, masker bukan pengganti upaya menghindari paparan. Mengurangi waktu di luar ruangan dan menjauhi kawasan dengan asap pekat tetap menjadi langkah utama.

Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi khusus pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau gangguan pernapasan. Jika memiliki kondisi kesehatan tertentu, konsultasikan penggunaan respirator dan langkah perlindungan yang sesuai kepada tenaga kesehatan.

3. Jaga Udara di Dalam Rumah Tetap Bersih

Berada di dalam rumah dapat membantu mengurangi paparan, tetapi perlindungan ini bergantung pada kondisi bangunan dan seberapa banyak asap yang masuk.

Saat udara di luar tercemar berat, tutup pintu dan jendela selama kondisi tersebut memungkinkan. Jika tersedia, gunakan pendingin ruangan dengan mode sirkulasi ulang dan penyaring udara yang sesuai.

Hindari menambah polusi di dalam rumah, misalnya dengan merokok, membakar sampah, menyalakan lilin, atau memasak dengan cara yang menghasilkan banyak asap. Apabila rumah tetap dipenuhi asap atau terlalu panas karena pintu dan jendela ditutup, pertimbangkan berpindah ke tempat yang udaranya lebih bersih dan aman.

4. Lindungi Anak-anak dan Kelompok Rentan

Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki asma, penyakit paru kronis, atau gangguan jantung termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus saat kabut asap terjadi.

Orang tua sebaiknya membatasi kegiatan bermain anak di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Sekolah dan penyelenggara kegiatan masyarakat juga perlu mempertimbangkan kondisi udara sebelum mengadakan aktivitas luar ruangan.

Bagi masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung, obat rutin sebaiknya digunakan sesuai petunjuk dokter. Jangan menghentikan atau mengubah pengobatan tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

5. Kenali Gejala dan Segera Cari Pertolongan

Paparan asap dapat menimbulkan keluhan berupa mata perih, batuk, tenggorokan terasa kering, sesak napas, mengi, atau dada terasa tidak nyaman.

Jika keluhan muncul, segera hentikan aktivitas di luar ruangan dan pindah ke tempat dengan udara yang lebih bersih. Apabila gejala menetap atau memburuk, periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Kesulitan bernapas, nyeri dada, kebingungan, atau bibir tampak kebiruan merupakan tanda bahaya yang memerlukan pertolongan medis segera. Jangan menunggu hingga kondisi semakin parah, khususnya pada anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta.

Pencegahan Perlu Dilakukan Bersama

WHO menekankan pentingnya mengurangi paparan asap, melindungi kualitas udara di dalam ruangan, mencari tempat dengan udara yang lebih bersih, serta mengikuti informasi dan arahan otoritas setempat.

Di tengah ancaman karhutla, masyarakat di wilayah terdampak perlu menjadikan informasi kualitas udara sebagai salah satu pertimbangan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Upaya perlindungan juga perlu didukung oleh pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, sekolah, dan lingkungan masyarakat agar kelompok rentan memperoleh perhatian yang memadai.

Menjaga kesehatan selama kabut asap bukan sekadar menggunakan masker. Mengurangi paparan, menjaga udara dalam ruangan, mengenali gejala, dan mencari pertolongan saat diperlukan merupakan langkah yang saling melengkapi untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.

(Dirangkum dari berbagai sumber kesehatan resmi)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال