
Ilustrasi siswa sedang belajar di kelas. Foto/Open AI
POSSINDO.COM, Nasional - Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) meminta pemerintah mengkaji kembali wacana penerapan kebijakan tidak naik kelas di sekolah yang rencananya diberlakukan pada Tahun Ajaran 2027/2028.
"Kami meminta pemerintah mengkaji secara mendalam efektivitas kebijakan ini sebelum diterapkan secara nasional," kata Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji lewat pesan singkat, Selasa (20/10).
Ubaid menekankan institusi pendidikan harus menerapkan bahwa ukuran keberhasilan janganlah mengacu pada jumlah peserta didik yang tinggal kelas, melainkan jumlah anak yang berhasil meningkatkan kompetensi membaca, menulis, berhitung, dan kemampuan dasar lainnya.
Ubaid menyebut ancaman tidak naik kelas ini dinilai takkan menyelesaikan permasalahan secara seketika.
Ia meminta agar jangan sampai pemerintah keliru menganalisis persoalan yang sebenarnya terjadi.
Ubaid menyebut peserta didik yang belum bisa membaca dan berhitung bukan semata-mata karena kurang motivasi atau malas belajar.
"Bisa jadi karena sejak awal mereka tidak mendapatkan layanan pembelajaran yang berkualitas, guru kewalahan, metode pembelajaran tidak sesuai kebutuhan, atau sekolah kekurangan fasilitas pendukung," ujarnya.
Ubaid mengatakan kalau anak gagal mencapai kompetensi, yang harus dievaluasi juga bukan hanya peserta didik tersebut, tetapi juga guru, sekolah, dan tak terkecuali sistem pendidikan oleh negara.
Ia menegaskan jangan sampai kegagalan sistem justru dibebankan kepada anak melalui kebijakan tinggal kelas ini.
Terlebih, menurutnya mengulang kelas juga tidak otomatis membuat kemampuan peserta didik tersebut meningkat.
"Jika metode belajar, kualitas guru, dan lingkungan pembelajarannya tetap sama, apa jaminannya anak akan lebih pintar setelah mengulang satu tahun?" ucapnya.
Ia pun menekankan bahwa pada prinsipnya, peserta didik tidak boleh asal naik kelas, tetapi juga tidak boleh asal ditinggal kelas.
"Tugas Kemendikdasmen bukan menghukum ketertinggalan belajar, melainkan memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan dan dukungan untuk mengejar ketertinggalannya," ujarnya.
Sumber : CNN Indonesia