"Adipati Semangat CEO, Negeri Muara Bubuhan Jadi Ladang Niaga”
![]() |
| Ilustrasi Pemimpin Nala Gareng. Foto/Net |
CERITA RAKYAT - Di Negeri Muara Bubuhan, yang Dipertuan Agung Tuanku Gusti Adipati Nala Gareng kini bukan lagi sekadar pemimpin. Ia sudah merasa dirinya bukan sekadar Adipati, melainkan rasa bajak laut yang ganti casing untuk beberapa waktu.
Pada hari itu, Nala Gareng seperti biasa mengisi waktunya di hari libur. Ia lagi bersantai sembari memperlancar bacaannya, mengingat pernah ditertawakan rakyat Negeri Muara Bubuhan karena cara membacanya yang tidak lebih baik dari anak Ibtida.
Nampak di hadapannya beberapa novel populer, semisal Asmaraman Kho Ping Hoo dengan judul Petualang Asmara, dan tentu saja tak ketinggalan novel-novel karangan Tara Zagita berjudul Hantu Gadis Bangsawan. Namun, yang paling menyita perhatiannya adalah yang berjudul Darah Kemesraan. Ini kesukaan Nala Gareng sebab penuh gizi dan gurih.
Di suasana santai tersebut, kepala stafsus alias Bagong Al-Kadzab tiba-tiba datang dan nampak membisikkan sesuatu.
Maka berkatalah Bagong:
“Yang mulia Gusti, di balai sampian lagi ditunggu oleh bubuhan pengurus masjid. Mun malihat potongan pinanya, handak manyurung proposal pang.”
(Seperti biasa, aroma penjilat segera menyeruak. Maklum, Adipati Nala Gareng paling anti banar mendangar proposal.)
Nala Gareng mengangguk.
Jawaban Ala Pangusaha Salah Tempat
“Ekhem,” kata Nala Gareng sambil menyandar.
“Yang mana kalau ulun bantu langsung, itu namanya biaya.”
Bagi Nala Gareng, semua duit kerajaan berasa empunya pribadi. Dengan kata lain, lagi ngeles supaya kada kaluar duit. Rasa rugi basar mun mangaluarakan.
Pengurus masjid saling pandang.
“Tapi yang mana kalau ulun lajari cara usaha,” lanjutnya bangga,
“itu namanya pemberdayaan!”
(Upaya ngeles sekira kada kaluar duit.)
Bagong langsung manyahut,
“Masya Allah, Tuanku. Ini konsep ekonomi umat!”
Nala Gareng lalu berkata dengan penuh keyakinan,
“Kenapa kada beli taruntun haja?”
Pengurus masjid bingung.
“Tronton, Tuanku?”
“Iya!” kata Nala Gareng dengan penuh semangat.
“Yang mana untuk disewakan. Angkut pasir, angkut tanah, sawit, dll. Duitnya yang mana masuk kas masjid!”
Lalu duitnya dibagi sama rata.
Pengurus Masjid Makin Bingung
Ketua pengurus mengusap dada sembari berkata,
“Tuanku Adipati Nala Gareng, kami ini gawiannya maurus masigit gasan baibadah, kada maurus logistik luku ae.”
Nala Gareng tertawa kecil.
“Yang mana itu pemikiran lama. Sekarang ini semua harus kon… kontrokk… eh, kont… porere!”
(Maksud Gareng: kontemporer.)
Punggawa yang dari tadi diam akhirnya angkat suara pelan,
“Tuanku, kada semua masalah bisa diselesaikan dengan cara dagang.”
Nala Gareng manyela,
“Yang mana punggawa ae, pian neneh kada punya jiwa enterr… ree… pener!”
(Maksudnya: entrepreneur.)
Pengurus masjid mencoba menjelaskan lagi.
“Tuanku Nala Gareng, kami ini perlu bantuan karena dana umat terbatas.”
Nala Gareng mengangguk cepat.
“Nah! Itu sebabnya yang mana harus manukar taruntun. Pokoknya buhan pian bakumpulan, yang mana terdiri dari saluruh masigit sa penjuru negeri. Duitnya kumpulakan, jadi kada perlu lagi proposal, apalagi bapintaan!”
Seperti biasa, Bagong tersenyum puas.
“Tuanku ini solutif. Kalau gagal, berarti ada niat yang kurang kuat.”
Kabar itu cepat menyebar.
Dan seperti biasa, rakyat Negeri Muara Bubuhan penuh maklum dengan Adipati yang satu ini. Mungkin karena masa lalunya sebagai bajak laut itulah yang membuat semua kalangan bisa menerimanya.
Pengadaan Barang & Jasa: Ladang Emas Istana
Suatu hari, Nala Gareng memanggil Punggawa.
“Punggawa,” katanya serius,
“pengadaan barang dan jasa itu harus dipercayakan ke orang dekat. Ini titahku. Dari gawian nang halus, ganal sampai karicikan, pokoknya raup semua.”
Punggawa kaget.
“Tuanku, itu ada aturannya.”
Nala Gareng manyela,
“Aturan itu fleksibel, asal niatnya membangun. Lagian ikam kada ingatkah, yang mana aku ini adalah aturan baikungan.”
Bagong langsung masuk,
“Iya, Tuanku! Mun urang lain nang dapat, itu artinya rawan penyalahgunaan.
Kalau orang kita yang dapat, itu ngarannya kepercayaan. Trust issue ini harus bebujur kita kelola.”
(Aroma penjilatnya benar-benar bau amis.)
Muehehe….
Suatu hari, Nala Gareng memanggil Punggawa.
“Punggawa,” katanya serius,
“pengadaan barang dan jasa itu harus dipercayakan ke orang dekat. Ini titahku. Dari gawian nang halus, ganal sampai karicikan, pokoknya raup semua.”
Punggawa kaget.
“Tuanku, itu ada aturannya.”
Nala Gareng manyela,
“Aturan itu fleksibel, asal niatnya membangun. Lagian ikam kada ingatkah, yang mana aku ini adalah aturan baikungan.”
Bagong langsung masuk,
“Iya, Tuanku! Mun urang lain nang dapat, itu artinya rawan penyalahgunaan.
Kalau orang kita yang dapat, itu ngarannya kepercayaan. Trust issue ini harus bebujur kita kelola.”
(Aroma penjilatnya benar-benar bau amis.)
Muehehe….
Bisnis Pupuk: Dari Sawah ke Istana
Nala Gareng lalu melirik sektor tani.
“Petani ini perlu pupuk,” yakalo lah.
“Dan yang mana ulun perlu… sistim.”
Sistim yang dimaksud:
• pupuk harus lewat jalur tertentu
• rakyat sebagai objek customer
• distributor “sefrekuensi”
• kalau bukan orang lingkaran, susah hidup
Bagong membisiki,
“Tuanku, ini yang ngarannya sinergi.”
“Jika ada yang mengkritik, berarti itu rakyat nang kurang paham mekanisme pasar,” tutup Bagong.
Merambah Semua yang Bisa Dirambah
Karena merasa jago bisnis, Nala Gareng mulai merasa semua sektor bisa dijadikan ladang:
• pengadaan makan minum acara
• sewa tenda merangkap EO
• baliho, spanduk, dll.
• even-even seremonial
• sampai urusan kecil yang bisa dipotong komisi
“Ini bukan cari untung,” kata Nala Gareng.
“Yang mana ini menggerakkan ekonomi rakyat.”
Padahal niat Gareng tak bukan dan tak lain adalah break even point (BEP), alias mambulikakan modal.
Ekonomi siapa?
Tentu ekonomi Nala Gareng CS.
Muehehehe….
Staf Khusus Jadi Marketing
Staf khusus bukan lagi penasihat,
tapi tim marketing kekuasaan.
Tugas mereka:
• membungkus kebijakan dagang jadi visi pembangunan
• menyulap konflik kepentingan jadi inovasi
• menganggap kritik sebagai iri dengki
• semua yang bisa dirangkap, ya dirangkap: stafsus, direktur PD negeri, kontraktor, sampai pimpinan media
Bagong paling depan.
“Tuanku ini luar biasa,” katanya.
“Adipati lain mikir anggaran, pian mikir peluang.”
Muehehehehehehe….
Hari Jadi di Kolong Jembatan: Simbol Sempurna
Puncaknya, hari jadi negeri dirayakan di bawah kolong jembatan.
Bagi Nala Gareng, itu simbol:
• efisiensi
• merakyat
• branding unik
Hari jadi pun tiba dengan meminjam pesanggrahan yang bukan milik Negeri Muara Bubuhan, tapi membaikinya pakai anggaran Negeri Bubuhan karena kada paham alias kada mengerti dan tidak mau mendengarkan nasihat para menteri. Bahkan merasa paling paham, makanya kada masuk banyu.
Spanduk dipasang miring,
lampu digantung seadanya,
dan suara kendaraan di atas jembatan jadi backsound resmi acara.
Nala Gareng naik ke panggung kecil.
“Wahai rakyat Negeri Muara Bubuhan!” teriaknya.
“Hari ini yang mana kita rayakan hari jadi negeri dengan sederhana, tapi bermakna!”
Walaupun normalnya perayaan hari jadi dilaksanakan di ibu kota negeri, namun ini Nala Gareng. Tentu beliau punya pendapat sedikit agak lain.
Gedebug… gedebug…
Truk lewat di atas, mic pun bergetar.
Seorang paman pentol berbisik,
“Ini hari jadikah atau pasar malam kah?”
Yang lain menjawab,
“Ini hari jadi versi kolong sanakai. Jangan tapi habut, yang penting pantul pian habis.”
Acara penuh kritik rakyat Negeri Muara Bubuhan. Namun kepala stafsus alias Bagong beserta antek-anteknya membela habis-habisan.
“Ini konsep!” kata Bagong.
“Bukan sembarang kolong!”
Padahal yaaaa… tetap kolong.
Penutup yang Tidak Menutup Apa-Apa: Negeri Bukan CV Pribadi
Begitulah kisah Adipati rasa CEO, rasa ndeso, rasa sultan, rasa kapala tukang, rasa konsultan, dan masih banyak varian rasa yang lain. Nala Gareng mengira negeri bisa dikelola dengan gaya dagang tanpa ilmu. Padahal negeri dikelola berdasarkan undang-undang, bukan asas untung rugi layaknya perusahaan. Jabatan bukan modal, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, dan rakyat bukan konsumen bodoh yang bisa menjadi objek mencari cuan dengan dalih pemerataan dan meningkatkan pendapatan Negeri Muara Bubuhan.
Karena di Negeri Muara Bubuhan:
akal kalah oleh penjilat,
kerja kalah oleh citra,
dan rakyat kalah oleh ego penguasa bodoh yang mengira dirinya pintar.
Bersambung…
Oleh: Akhmad Wahyuni, S.Sos., M.IP
Pensiunan ASN pada Pemerintah Kabupaten Barito Kuala, Alumni APDN Kota Banjarbaru dan Magister Ilmu Pemerintahan Univ. Lambung Mangkurat.
Tags
Cerita Rakyat
