
Ilustrasi kilang minyak.Foto/Bloomberg-Peter Boer
POSSINDO.COM, Ekonomi – Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Senin pagi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap memanasnya aksi protes di Iran yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali mendorong kenaikan harga minyak setelah investor memperhitungkan risiko gangguan ekspor dari salah satu produsen utama dunia tersebut.
Berdasarkan laporan Reuters, Senin (12/1/2026), harga minyak mentah berjangka Brent tercatat naik 31 sen atau 0,49 persen ke level US$ 63,65 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 30 sen atau 0,51 persen menjadi US$ 59,42 per barel.
Sepanjang pekan lalu, harga Brent dan WTI sama-sama melonjak lebih dari 3 persen. Kenaikan ini menjadi yang terbesar secara mingguan sejak Oktober lalu, dengan ketegangan di Iran disebut sebagai faktor utama pengerek harga.
Pemerintah Iran dilaporkan terus memperketat tindakan terhadap demonstrasi besar-besaran yang telah berlangsung sejak 2022. Laporan kelompok hak asasi manusia menyebutkan, kerusuhan sipil tersebut telah menewaskan lebih dari 500 orang. Situasi ini memicu kekhawatiran lanjutan setelah para pekerja industri minyak menyerukan aksi mogok kerja.
“Situasi ini menempatkan setidaknya 1,9 juta barel ekspor minyak per hari dalam risiko gangguan,” tulis analis ANZ yang dipimpin Daniel Hynes dalam catatannya.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan akan memanggil para penasihat seniornya pada Selasa waktu setempat menyusul ketegangan yang belum mereda di Iran. Trump sebelumnya juga mengancam akan melakukan intervensi jika kekerasan terhadap demonstran terus berlanjut.
Sementara itu, pasar juga mencermati perkembangan di Venezuela. Negara tersebut disebut akan segera melanjutkan ekspor minyak setelah penggulingan Presiden Nicolas Maduro. Trump menyatakan pemerintah Venezuela bersiap menyerahkan hingga 50 juta barel minyak yang sebelumnya terkena sanksi kepada Amerika Serikat.
Kabar ini memicu persaingan ketat di antara perusahaan minyak global untuk mendapatkan kapal tanker guna mengangkut minyak dari pelabuhan-pelabuhan Venezuela yang kondisinya mulai rusak. Salah satu perusahaan perdagangan komoditas terbesar dunia, Trafigura, bahkan telah bergerak cepat dan menyatakan kapal pertama mereka dijadwalkan mulai memuat minyak pada pekan depan.
Sumber: Finance.detik.com