
Ekonom
yang Tepat Tebak Tiga Juara Piala Dunia Prediksi Belanda Angkat Trofi 2026. Foto/Open AI
POSSINDO.COM, Olahraga - Piala Dunia 2026 bahkan belum dimulai, tetapi sebuah prediksi sudah memantik perdebatan besar di kalangan pencinta sepak bola. Bukan datang dari mantan pemain, pelatih ternama, atau superkomputer FIFA, melainkan dari seorang ekonom asal Jerman bernama Joachim Klement.
Nama Klement
mendadak kembali jadi sorotan karena model statistik buatannya sukses menebak
tiga juara Piala Dunia terakhir secara beruntun: Jerman pada 2014, Prancis pada
2018, dan Argentina pada 2022. Kini, pria yang bekerja sebagai ahli strategi
investasi di Panmure Liberum itu memprediksi Belanda bakal keluar sebagai
kampiun Piala Dunia 2026.
Prediksi tersebut tentu mengejutkan. Sebab, Belanda bukan favorit utama di
bursa taruhan. Tim Oranje juga menyandang label “raksasa tanpa mahkota”
karena belum pernah memenangkan Piala Dunia, meski sudah tiga kali mencapai
final.
Dalam simulasi yang dibuatnya, Belanda disebut akan melewati jalur yang sangat berat. Tim asuhan Ronald Koeman diprediksi menghadapi Prancis di perempat final, lalu menyingkirkan Spanyol di semifinal sebelum akhirnya mengalahkan Portugal milik Cristiano Ronaldo di partai puncak yang berlangsung di New York pada 19 Juli mendatang.
“Saya sendiri cukup terkejut ketika model saya menunjukkan Belanda sebagai juara,” ujar Klement kepada SBS Dutch.
“Terutama karena jalur mereka menuju final sangat sulit. Prancis secara kualitas lebih diunggulkan, tetapi dalam sepak bola keberuntungan memainkan peran besar. Sekitar 50 persen hasil pertandingan ditentukan oleh faktor keberuntungan,” lanjutnya.
Prediksi yang Sulit Diabaikan
Awalnya, banyak pihak menganggap model statistik Klement hanya kebetulan semata. Namun setelah tiga edisi Piala Dunia berturut-turut tepat sasaran, prediksinya mulai dipandang serius.
Klement sendiri justru mengaku tidak pernah berniat menjadi “peramal sepak bola”. Ia mengatakan proyek tersebut awalnya dibuat sebagai eksperimen untuk menunjukkan bahwa banyak ekonom sebenarnya terlalu percaya diri dalam memprediksi sesuatu yang sulit diukur.
“Ini dimulai sebagai latihan untuk menunjukkan kesombongan para ekonom yang merasa bisa memprediksi hal-hal yang sebenarnya tidak mereka pahami,” katanya kepada BBC Sport.
“Namun ketika
Anda terus benar, orang mulai menganggap model itu tidak terkalahkan.”
Model tersebut mempertimbangkan berbagai faktor seperti
populasi negara, kekuatan ekonomi, iklim, hingga ranking FIFA. Tetapi Klement
menegaskan bahwa data hanya menjelaskan sebagian kecil dari hasil akhir
pertandingan.
“Separuh lainnya adalah keberuntungan. Performa di hari pertandingan, keputusan wasit, bola membentur tiang atau masuk ke gawang — semua itu tidak bisa diprediksi,” ujarnya.
Sumber : sindonews.com