
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana. Foto/ Biro
Pers Sekretariat Presiden
POSSINDO.COM, Nasional - Peringatan Hari Gizi Nasional 2026 kembali menjadi pengingat pentingnya gizi seimbang sebagai fondasi kualitas generasi masa depan. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengatakan, perhatian terhadap komposisi gizi dalam makanan sehari-hari harus dimulai dari keluarga, bukan sekadar urusan kenyang.
Dalam rangka pekan gizi menyambut Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap 25 Januari, Dadan mengajak masyarakat memahami manfaat setiap makanan yang dikonsumsi. Menurutnya, gizi bukan hanya soal jumlah makanan, tetapi komposisi zat gizi yang masuk ke tubuh.
"Komposisi gizi itu perlu diperhatikan. Kita perlu tahu makanan itu manfaatnya apa untuk tubuh kita. Misalnya, ketika makan wortel mestinya kita paham di situ ada vitamin A atau serat," kata Dadan.
Dia, mencontohkan, konsumsi buah tidak harus dalam jumlah besar, tapi cukup beragam. "Tiga buah dengan warna berbeda dalam sehari saja sudah baik. Jumlahnya tidak perlu banyak, yang penting komposisinya," ujarnya.
Dadan menekankan bahwa gizi merupakan fondasi utama kualitas sumber daya manusia. Dia menyinggung pengalaman negara-negara maju seperti Jepang, India, dan Brasil yang telah menjalankan program peningkatan gizi selama puluhan hingga ratusan tahun.
"Mereka sudah memanen hasilnya. Kualitas SDM unggul, IQ rata-rata tinggi, pertumbuhan fisik bagus, kuat, dan produktif. Indonesia harus masuk ke tahap itu," katanya.
Anak Indonesia Tidak Punya Akses Menu Gizi Seimbang
Menurut Dadan, tantangan Indonesia masih besar karena banyak anak lahir dari keluarga dengan tingkat pendidikan orang tua yang relatif rendah. Kondisi tersebut berdampak pada pemahaman gizi dan akses terhadap makanan bergizi seimbang.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah menghadirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bentuk intervensi nyata negara.
Program ini menyasar anak usia sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, terutama kelompok yang selama ini kesulitan mengakses gizi seimbang.
"Sekitar 60 persen anak Indonesia tidak memiliki akses menu gizi seimbang dan tidak mampu membeli susu. Pemerintah hadir untuk memperbaiki generasi masa depan," ujar Dadan.
Program MBG Tunjukkan Capaian Signifikan
Dia, menambahkan, anak-anak yang lahir hari ini akan menjadi generasi produktif dalam 20 tahun ke depan. Karena itu, investasi gizi menjadi krusial untuk menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
"BGN punya tugas utama melakukan intervensi pemenuhan gizi di seluruh Indonesia. Kita ingin mengajak seluruh masyarakat dan keluarga untuk benar-benar memperhatikan gizi seimbang," tambahnya.
Sepanjang 2025, implementasi Program MBG menunjukkan capaian signifikan. Dadan menyebut bahwa jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah mencapai 19.188 unit dengan total penerima manfaat sebanyak 55,1 juta orang.
"Per 31 Desember 2025, SPPG melayani 55,1 juta penerima manfaat. Total anggaran yang terserap mencapai Rp55,2 triliun, melebihi target awal Rp52,2 triliun," ujarnya.
Tak hanya itu, sepanjang satu tahun, program MBG telah mengolah sekitar 3,7 miliar porsi makanan bergizi. Angka tersebut mencerminkan komitmen negara dalam membangun kualitas generasi Indonesia melalui gizi.
Melalui momentum Hari Gizi Nasional 2026, Dadan berharap kesadaran gizi seimbang tidak berhenti pada peringatan tahunan, melainkan menjadi budaya di setiap keluarga Indonesia. Gizi yang tepat hari ini, menurutnya, adalah kunci kualitas anak dan masa depan bangsa.
Sumber : liputan6.com