![]() |
| Penampakan Rumah Lanting milik Bapa Ahmad yang berada di Tepian Pasar Patanak, Kelurahan Pulang Pisau. Foto/Dika |
PULANG PISAU – Dari kejauhan, rumah itu tampak seperti sebuah kapal kayu besar yang bersandar tenang di tepian Sungai Kahayan. Warna cokelat dan hitam mendominasi bangunannya, berpadu dengan pantulan air sungai yang bergerak perlahan. Inilah rumah lanting milik Bapa Ahmad, sebuah hunian terapung yang berdiri sendiri di kawasan Pasar Patanak, Kabupaten Pulang Pisau.
Rumah lanting tersebut bukan rumah biasa. Ia mengapung di atas air, mengikuti naik-turun arus sungai, namun tetap kokoh seperti rumah di darat. Bagian bawah bangunan dibuat menyerupai lambung kapal, menopang seluruh struktur rumah beserta perabotan di dalamnya. Meski berisi lemari, meja, kursi, dan berbagai perlengkapan rumah tangga, bangunan tetap stabil dan tidak oleng.
![]() |
| Interior dalam rumah lanting milik bapa Ahmad terlihat elegan dan mewah dengan bahan berkualitas. Foto/IST |
Material kayu menjadi jiwa utama rumah ini. Kayu ulin digunakan pada bagian bawah sebagai penopang utama karena ketahanannya terhadap air, sementara bagian atas rumah dibangun menggunakan kayu banuas. Di dalam rumah, perabotan dari kayu jati tertata rapi, memberi kesan hangat sekaligus elegan. Ukiran khas suku Banjar terlihat pada tiang, pagar, hingga detail interior, menegaskan identitas budaya rumah lanting tersebut.
Di bagian depan, sebuah teras kayu menghadap langsung ke Sungai Kahayan. Teras itu menjadi ruang paling hidup di rumah lanting. Dari sanalah penghuni bisa duduk santai, bercengkerama, bernyanyi karaoke, atau sekadar menikmati hembusan angin sungai. Saat sore hari, cahaya matahari yang memantul di permukaan air menciptakan suasana tenang yang sulit ditemukan di daratan.
Rumah Unik. Mampu berpindah- Pindah
Keunikan rumah ini tidak hanya pada bentuknya yang terapung, tetapi juga kemampuannya untuk berpindah tempat. Rumah lanting tersebut pernah bergeser lokasi, salah satunya hingga ke kawasan Kanamit Maliku. Meski demikian, rumah tetap dirancang dengan perhitungan matang. Keseimbangan menjadi kunci utama—perabotan di dalam rumah harus ditata merata agar tidak memberatkan satu sisi saja.
![]() |
| Bagian depan rumah lanting milik Bapak Ahmad yang berada di area Pasar Paranak. Foto/IST |
Meski berada di atas air, rumah ini tidak mudah terombang-ambing. Saat air pasang atau ombak sungai datang, bangunan tetap tenang dan kokoh. Rumah seolah menyatu dengan sungai, mengikuti geraknya tanpa melawan.
Sejak berdiri, rumah lanting ini kerap menyita perhatian warga. Banyak orang datang hanya untuk melihat lebih dekat atau mengabadikan momen dengan latar rumah terapung tersebut. Bahkan, rumah ini pernah dikunjungi wisatawan asing yang penasaran dengan kehidupan di atas sungai.
Kini, rumah lanting itu berfungsi sepenuhnya sebagai tempat tinggal. Tidak ada usaha, tidak ada aktivitas wisata. Di dalamnya, kehidupan berjalan sederhana-tempat berkumpul keluarga, berbagi cerita, dan menjalani hari-hari di atas aliran Sungai Kahayan.
Di Pasar Patanak, rumah lanting itu menjadi penanda bahwa sungai bukan sekadar aliran air, melainkan ruang hidup. Sebuah rumah yang mengapung, tenang, dan setia menemani arus, menyimpan kisah tentang kedekatan manusia dengan alam yang diwariskan dari generasi ke generasi. ( Dika)
Tags
Ragam


