
Di
Balik Anyaman Ketupat, Tersimpan Makna Mendalam tentang Idul Fitri. Foto/SHUTTERSTOCK/RANI RESTU
IRIANTI
POSSINDO.COM, RAGAM - Lebaran rasanya kurang lengkap tanpa kehadiran ketupat di meja makan. Ketupat merupakan teman bersantap gurihnya opor ayam, pedasnya sambal goreng kental, atau rendang yang bumbunya meresap.
Namun apakah kalian tahu, di balik anyaman janur kuning yang cantik itu, tersimpan filosofi mendalam dan sejarah yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu?
Filosofi Ketupat: simbol minta maaf Dalam buku Tradisi
Islam di Nusantara (2019) karya Ma’sumatun Ni’mah, disebutkan kalau kata
"ketupat" atau "kupat" dalam bahasa Jawa punya kepanjangan
yang mendalam, yaitu ngaku lepat. Artinya? Mengaku bersalah.
Jadi, makan ketupat saat Lebaran itu sebenarnya simbol kalau kita berani
mengakui kesalahan dan siap saling memaafkan. Pas banget dengan momen Idulfitri
yang penuh dengan vibe kesucian, kan?
Rahasia di balik anyaman janur
Pernah terpikir kenapa bungkusnya harus pakai janur
kuning? Masyarakat Jawa memaknai janur sebagai singkatan dari sejatine nur, alias
cahaya sejati. Ini melambangkan kondisi manusia yang kembali bersih dan suci
(fitrah) setelah sebulan penuh berpuasa.
Bentuknya yang segi empat pun bukan tanpa alasan. Bentuk ini mencerminkan
prinsip kiblat papat lima pancer, yang bermakna ke mana pun kita pergi, tujuan
akhirnya adalah kembali kepada Sang Pencipta.
Bahkan, detail anyamannya yang rumit itu ada maknanya,
lho! Itu menggambarkan banyaknya kesalahan manusia. Bentuk segi empat
mencerminkan prinsip kiblat papat lima pancer, yang bermakna bahwa ke mana pun
manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Allah SWT.
Namun tenang, begitu ketupat dibelah, warna putih di dalamnya jadi simbol
kebersihan hati setelah kita memohon ampunan.
Self-healing yang sesungguhnya! Sementara, kerumitan anyaman bungkus ketupat mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia.
Selanjutnya, warna putih ketupat ketika dibelah dua mencerminkan kebersihan dan kesucian manusia setelah memohon ampunan selama bulan suci Ramadhan.
Adapun beras yang digunakan sebagai isi ketupat diharapkan menjadi lambang kemakmuran setelah Hari Raya Idul Fitri.Sumber : Kompas.com