![]() |
| Ilustrasi Bimasakti sebagai representasi galaksi tempat para astronom menganalisis data presisi tinggi dari misi antariksa Gaia milik European Space Agency (ESA). Foto/net |
POSSINDO.COM, Ragam, – Menentukan usia alam semesta masih menjadi salah satu pertanyaan terbesar dalam kosmologi modern. Selama ini, para ilmuwan memperkirakan usia alam semesta dari seberapa cepat ia mengembang. Dilansir dari Phys.org, penelitian terbaru menawarkan pendekatan berbeda. Alih-alih melihat laju ekspansi, para peneliti mencoba memperkirakan usia alam semesta dengan mempelajari usia bintang-bintang tertua di galaksi Bima Sakti.
Bintang Tertua Digunakan untuk Menghitung Usia Alam Semesta
Peneliti dari University of Bologna dan Leibniz Institute for Astrophysics Potsdam (AIP) mengusulkan pendekatan baru untuk memahami usia alam semesta. Mereka menggunakan data presisi tinggi dari bintang-bintang sangat tua di galaksi Bima Sakti. Selama beberapa dekade, para astronom mengandalkan konstanta Hubble untuk menghitung usia alam semesta. Konstanta ini menggambarkan seberapa cepat ruang kosmos mengembang.
Namun muncul masalah besar, dua metode utama menghasilkan angka pengukuran yang berbeda. Pengukuran yang menggunakan objek astronomi relatif dekat seperti bintang Cepheid dan supernova memberikan nilai konstanta Hubble yang lebih tinggi, yang berarti usia alam semesta lebih muda. Sebaliknya, pengukuran berdasarkan radiasi latar gelombang mikro kosmik (cosmic microwave background) menunjukkan usia alam semesta lebih tua. Perbedaan inilah yang kemudian dikenal sebagai Hubble tension, salah satu teka-teki terbesar dalam kosmologi modern.
Penelitian ini mencoba melihat persoalan tersebut dari sudut pandang lain. Mereka meneliti usia bintang-bintang tertua di Bima Sakti untuk memperkirakan batas minimum usia alam semesta. Logikanya sederhana, alam semesta tidak mungkin lebih muda daripada bintang tertua yang ada di dalamnya. Dengan kata lain, jika usia bintang tertua bisa diukur secara akurat, ilmuwan dapat menentukan batas minimum usia alam semesta. Peneliti kemudian menganalisis katalog usia lebih dari 200.000 bintang di Bima Sakti yang dihitung dari data kecerahan, posisi, dan jaraknya.
Berapa Usia Alam Semesta?
Untuk memperoleh hasil yang lebih presisi, tim peneliti menggunakan data dari misi antariksa Gaia milik European Space Agency (ESA) yang memberikan pengukuran jarak dan spektrum bintang secara sangat akurat. "Dengan menggunakan data bintang yang sangat presisi, kami menentukan usia bintang-bintang sangat tua di Bima Sakti yang dipilih secara hati-hati," tulis para peneliti dalam laporan tersebut.
Dari kumpulan data besar tersebut, para peneliti memilih sekitar 100 bintang tertua dengan estimasi usia paling andal. Hasil analisis menunjukkan usia paling mungkin dari bintang-bintang ini sekitar 13,6 miliar tahun. Temuan ini memberi gambaran baru dalam perdebatan usia alam semesta. Angka itu lebih konsisten dengan estimasi usia kosmos dari pengamatan radiasi latar gelombang mikro kosmik, dibandingkan dengan metode lain yang menghasilkan usia lebih muda.
Penulis utama studi, Elena Tomasetti dari University of Bologna, menjelaskan pentingnya pendekatan lintas bidang dalam penelitian ini. "Proyek ini menunjukkan bagaimana menggabungkan keahlian dari berbagai bidang dapat membuka jendela baru untuk menjawab pertanyaan mendasar. Mengukur usia bintang memang tantangan yang kompleks, tetapi sekarang kita hidup di era ketika jumlah dan kualitas data memungkinkan kita mencapai presisi yang belum pernah ada sebelumnya," ujarnya.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa hasil ini belum menjadi jawaban final. Dengan rilis data Gaia berikutnya di masa depan, ilmuwan berharap bisa memperkirakan usia bintang dengan lebih akurat dan mempersempit lagi perkiraan usia alam semesta.
Sumber: detik.com
