Hikayat Nala Gareng Jadi Adipati Negeri Muara Bubuhan (Episode 7) — Setahun Nala Gareng Memerintah

 
Akhmad Wahyuni, S.Sos., M.IP. Foto/IST


Cerita Rakyat- Negeri Muara Bubuhan, negeri yang konon katanya makmur. Istana Adipatinya berdiri gagah di pinggir Segitiga Bermuda versi lokal — tempat hilir mudiknya Gunung Hitam berjalan, truk-truk besar yang lebih rajin lewat daripada janji kampanye yang ditepati.

Negeri ini penghasil padi terbesar. Sawah luas. Sawit melimpah. Firma perkebunan tumbuh seperti jamur musim hujan. Secara teori, rakyat seharusnya hidup sejahtera.

Namun kenyataan berkata lain.
Sejak setahun dipimpin Yang Dipertuan Agung Kanjeng Gusti Adipati Nala Gareng, harapan perubahan justru semakin jauh…
Sejauh panggang dari api, bahkan apinya pun sudah pindah ke kewedanaan

Kebijakan sang Adipati lebih sering membuat gaduh daripada manfaat. Para punggawa negeri pusing tujuh keliling:

Dikerjakan - salah aturan.
Tidak dikerjakan - dimarahi.
Akhirnya banyak pejabat memilih strategi paling aman: terlihat sibuk.

Babak I — Kedatangan Petruk

Petruk datang ke balairung agung dengan sorban besar melilit-lilit, entah simbol kebijaksanaan. Atau sisa kain spanduk kampanye yang belum sempat dibersihkan.

Wajahnya serius.

“Paduka… bila panggang semakin jauh dari api, maka rakyat hanya bisa mencium bau hangus harapan.”

Nala Gareng malah tertawa ngakak.

“Sumangat kanda Petruk! Lama kita kada jumpa!
Pasti membawa kabar baik tentang keberhasilanku, kan?”

Di belakangnya, Bagong dan geng pembisik elite ikut tertawa.
Tangan mereka sibuk merapikan berkas laporan:

Modal kerja
Keuntungan pribadi
Alasan kalau nanti diperiksa

Nala Gareng membuka tangan lebar.

“Yang mana menurutku negeri semakin hebat! Yang mana rakyat pasti bahagia!”

Bagong langsung mengangguk cepat, hampir keseleo leher.

“Betul Paduka! Bahkan kebahagiaan rakyat mungkin terlalu tinggi sampai tidak terlihat!”

Petruk menghela napas panjang.

“Paduka… aku datang membawa kabar duka.”

Tawa berhenti. Burung di halaman ikut diam. Bahkan kipas angin terasa ikut menilai situasi.

“Setahun Paduka memimpin…
negeri ini justru makin mundur.”

Suasana langsung tegang.

Nala Gareng menelan ludah. Bagong pura-pura batuk sambil mencari alasan di Google dalam hati.

Babak II — Suara Rakyat

Petruk mulai bercerita.

“Aku keliling pasar, pos ronda, warung kopi, bahkan tempat orang hutang belum bayar… semua membicarakan Paduka.”

Di pasar Muara Bubuhan, rakyat bergosip nasional level lokal.

Si Jumin berkata: 
“Janji undian umrah? Laptopnya aja sudah pensiun duluan.”

Ucil menyambung:
“Katanya mau nerima sampah negeri lain. Tempatnya mangkrak, truknya malah dipakai angkut batako proyek pribadi.”

Perman menimpali:

“Waktu banjir, Paduka janji meninggikan rumah rakyat. Data sudah ribuan. Yang tinggi cuma harapan kami… jatuhnya juga lebih sakit.”

Atak Timba berkata:
“Rumah kebakaran dijanji dibangun.
Sekarang abu pun sudah lupa siapa pemiliknya.”

Aluh Katinting mengeluh:
“Handak nonton konser di bawah jembatan layang.
Baju artis sudah siap.
Eh… banjir duluan.
Akhirnya bajuku yang tampil.”

Balairung makin sunyi. Bagong mulai berkeringat.
Bukan karena panas. tapi karena sebagian besar ide kebijakan itu memang berasal dari dirinya.

Petruk melanjutkan:
“Yang paling ramai di media sosial, Paduka…
rakyat sekarang saling sindir.
Hulu lawan hilir ribut.
Dulu rukun, sekarang debat tiap hari.”

Ia menatap langsung ke Nala Gareng.
“Pemimpin yang baik menyatukan rakyat.
Bukan menyediakan bahan komentar.”

Babak III — Raja yang Selalu Benar

Nala Gareng berdiri marah.
“Yang mana aku ini tidak salah!
Yang mana rakyat mencintaiku!
Yang mana banyak yang mencium tanganku!”

Bagong cepat membisik:
“Setuju Paduka…
itu bukti popularitas, bukan protes.”

Ajudan menambahkan:
“Kami sudah survei, Paduka.
Nama Paduka sangat terkenal…”

(ia tidak menjelaskan terkenal karena apa.)

Nala Gareng kembali percaya diri.

“Kita tidak boleh mundur!”
Bagong tersenyum lebar.
“Betul Paduka.
Kalau mundur nanti kelihatan salah.”

Babak IV — Filosofi Pejabat

Hari berganti, Media menulis, Rakyat mencibir. Nala Gareng menghela napas.
“Yang mana rakyat belum paham visi besar.”
Bagong mengangguk bijak.
“Biasanya rakyat paham setelah masalahnya menumpuk, Paduka.”

Seorang tetua berbisik:
“Pemimpin yang terlalu sering menjelaskan, biasanya lupa menyelesaikan.”

Babak V — Penutup yang Tidak Pernah Menutup

Dalang tidak menurunkan kelir. Gamelan terus berbunyi.

Karena di Negeri Muara Bubuhan, masalah tidak pernah selesai..hanya ganti judul.

Nala Gareng bersabda:
“Yang mana hujatan itu proses.
Yang mana hasil itu nanti saja.”

Bagong mengangguk paling keras.
“Benar Paduka!
Kalau hasil datang belakangan,
kita bisa terus di depan.”

Para patih diam.
Bukan karena setuju.
Tapi karena bingung…
harus memperbaiki dari bagian mana dulu.

Oleh : Akhmad Wahyuni, S.Sos., M.IP.

Penulis merupakan pensiunan ASN di lingkup Pemerintah Daerah Kabupaten Barito Kuala, Alumni APDN Banjarbaru  dan Program Magister Ilmu Pemerintahan Univ. Lambung Mangkurat.



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال