![]() |
| Ilustrasi Pupuk Indonesia.Foto/Ist |
POSSINDO.COM, Ekonomi - Penutupan Selat Hormuz oleh Iran tidak hanya menghambat distribusi energi, terapi juga distribusi pupuk. Sekitar 30% perdagangan pupuk dunia melewati selat tersebut yang secara volume mencapai sekitar 4 juta ton per bulan.Rinciannya terdiri dari 1,5 juta ton urea, 1,5 juta ton sulfur, serta 1 juta ton pupuk lainnya termasuk metanol.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi mengatakan imbas penutupan tersebut terjadi kenaikan harga terjadi pada pupuk urea. Menurutnya harga pupuk urea naik dua kali lipat dari sebelumnya sekitar US$ 400 per ton menjadi US$ 800 per ton.
Meski begitu, ia menjamin kenaikan harga ini tidak akan berpengaruh besar di Indonesia. Hal ini karena produksi dalam negeri sudah mencukupi yang mencapai 8,8 juta ton.
"Sehingga meskipun terjadi kejolak harga urea yang meningkat sebelum perang itu US$ 400 dan sekarang sudah mencapai US$ 800 atau dua kali lipat, tapi kami bisa meyakinkan di depan Bapak-Bapak Pimpinan dan Anggota Komisi XI, insyaAllah untuk Indonesia aman, karena ureanya diproduksi dalam negeri," ujarnya dalam RDP dengan Komisi XI DPR RI, Kamis (2/4/2026).
Bahkan kata Rahmad, Indonesia bisa menjadi penyelamat ekosistem pangan dunia khususnya untuk pupuk. Hal ini karena produksi pupuk di Indonesia tidak terganggu.
"Bahkan hari ini Indonesia bisa menjadi stabilizer atau bahkan penyelamat ekosistem pangan dunia. Kalau intuitif, biasanya Indonesia situasinya rentan jika terjadi kejolak dunia, khusus mengenai pupuk, kembali lagi saya menegaskan, khusus mengenai pupuk kita tidak terjadi gangguan khususnya kecukupan pupuk urea yang memang terganggu Hormuz," katanya.
Sementara itu, untuk jenis pupuk lain seperti fosfat dan potas, Rahmad mengatakan dampak yang dirasakan lebih kepada potensi kenaikan biaya logistik akibat kondisi geopolitik, bukan gangguan produksi global.
Rahmad menambahka, penutupan Selat Hormuz ini tidak akan berdampak terjadinya kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) pada pupuk.
"Sehingga insyaallah pupuk akan aman, HET sudah turun 20%, tidak ada rencana untuk kembali meningkatkan, artinya HET akan tetap. Dan kebutuhan pupuk urea baik untuk subsidi pun non-subsidi di Indonesia, kami dapat yakinkan bisa terselenggara dengan baik," tutur Rahmad.
Sumber: Finannce.detik.com
Tags
Ekonomi
