Peragaan Busana "SINTA" Benang Bintik Pulang Pisau 2026 Jadi Ajang Promosi Wastra dan Budaya Lokal

 

Bupati  Pulang Pisau, Ahmad Rifa'i bersama Wakil Bupati, Ahmad Jayadikarta menghadiri Peragaan Busana "SINTA" Benang Bintik Pulang Pisau 2026 di Panggung Utama Stadion H.M. Sanusi, Selasa (7/7/2026). Foto/IST

POSSINDO.COM, Pulang Pisau – Bupati Pulang Pisau Ahmad Rifa'i menghadiri sekaligus membuka Peragaan Busana bertema "SINTA" Benang Bintik Pulang Pisau 2026 yang digelar di Panggung Utama Stadion H.M. Sanusi, Selasa (7/7/2026) malam.

Kegiatan yang diselenggarakan Dekranasda Kabupaten Pulang Pisau bersama TP PKK, GOW, dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-24 Kabupaten Pulang Pisau. Acara diikuti perwakilan perangkat daerah, Forkopimda, BUMN, BUMD, BLUD, PT (Persero), hingga para camat.

Ketua Pelaksana, Ny. Hasanah Rifa'i, menjelaskan kegiatan tersebut bertujuan memperkenalkan batik Benang Bintik khas Pulang Pisau sekaligus menjadi ruang kreativitas dan kolaborasi dalam mengembangkan wastra daerah.

"Peragaan busana 'SINTA' Benang Bintik Pulang Pisau 2026 hadir sebagai wujud nyata pelestarian budaya Kalimantan Tengah, khususnya di Kabupaten Pulang Pisau, sekaligus menjadi ruang kolaborasi kreatif bagi desainer dan UMKM lokal," ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif melalui peningkatan nilai jual produk wastra khas daerah.

Sementara itu, Bupati Pulang Pisau Ahmad Rifa'i mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut sebagai wadah untuk mempromosikan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

"Melalui acara peragaan busana ini, kita diberikan ruang kreativitas yang luar biasa untuk mengangkat dan mempromosikan kekayaan budaya lokal kita, khususnya Batik Benang Bintik khas Pulang Pisau," ucapnya.

Menurutnya, tema "SINTA" mencerminkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap warisan budaya daerah yang harus terus dijaga dan dilestarikan bersama.

"Benang Bintik bukan hanya sekadar kain atau pakaian, melainkan sebuah mahakarya seni yang sarat makna, filosofi, dan identitas masyarakat Dayak, khususnya di Bumi Handep Hapakat," pungkasnya.(Dk)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال