![]() |
| Peserta antusias menyelesaikan karya Mading 3D bertema Revolusi Fisik Kalimantan Selatan, di Museum Wasaka Banjarmasin, Rabu (12/11/2025). |
POSSINDO.COM, Banjarmasin - lomba Edukatif Kultural Mading Tiga Dimensi (3D) yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Selatan melalui UPTD Museum Waja Sampai Kaputing (Wasaka) resmi berakhir dengan sukses.
Dalam lomba yang diikuti 16 tim dari SMA, SMK, dan sekolah
sederajat di empat kabupaten/kota, yakni Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru,
Kabupaten Barito Kuala, dan Kabupaten Tanah Laut, keluar sebagai juara pertama
SMAN 7 Banjarmasin dengan nilai 720 poin. Juara kedua diraih SMAN 1 Banjarmasin
(703 poin), dan juara ketiga SMAN 2 Banjarmasin (609 poin).
Untuk kategori harapan, juara harapan I diraih SMAN Mekar
Sari Barito Kuala (651 poin), harapan II SMKN 3 Banjarmasin (645 poin), dan
harapan III SMAN 3 Banjarbaru (600 poin).
Kepala Disdikbud Kalsel, Galuh Tantri Narindra melalui
Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permuseuman, Arry Risfansyah, menyampaikan rasa
syukur atas kelancaran pelaksanaan kegiatan yang rutin digelar setiap tahun
tersebut.
“Alhamdulillah, dari 16 peserta yang berasal dari empat
kabupaten/kota, semua dapat melaksanakan lomba dengan baik dan menunjukkan
perkembangan yang positif,” ujar Arry di Banjarmasin, Rabu (12/11/2025).
Meskipun sempat terkendala cuaca hujan, para peserta tetap
antusias dan berhasil menyelesaikan karya Mading 3D mereka tepat waktu sesuai
jadwal. Arry menilai, kualitas karya peserta tahun ini menunjukkan peningkatan
dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Walau ada kendala, semua peserta dapat menyelesaikan
karyanya sesuai waktu. Selain itu, secara kualitas, karya tahun ini mengalami
perkembangan signifikan,” tambahnya.
Lomba kali ini mengangkat tema “Revolusi Fisik Kalimantan
Selatan”, yang bertujuan menumbuhkan pemahaman sejarah perjuangan rakyat Banua
kepada generasi muda.
Menurut Arry, para peserta sudah cukup memahami materi yang
diangkat, terutama tentang sejarah perjuangan rakyat Kalsel melawan penjajahan
Belanda (NICA) pasca-Proklamasi 1945
“Mereka sudah mampu menguasai dan menyampaikan kembali
sejarah revolusi fisik melalui karya mereka,” pungkas Arry.
Dalam penilaian, panitia menghadirkan tiga dewan juri
profesional: Wajidi (sejarawan), Budi Kurniawan (jurnalis dan komunikator),
serta M. Syahril M. Noor (bidang artistik).
Syahril M. Noor menilai hasil karya para peserta dinamis dan
kreatif, meski sebagian masih menghadapi kendala teknis.
“Ada peserta yang sudah memahami sejarah dengan baik, tapi
ada juga yang masih kesulitan karena baru pertama kali mengikuti. Faktor cuaca
dan manajemen waktu juga memengaruhi hasil karya mereka,” jelasnya.
Sementara itu, sejarawan Wajidi berharap peserta ke depan
dapat memperdalam riset mengenai tema yang diangkat.
“Peserta sebaiknya lebih mendalami tema melalui riset atau pencarian sumber tambahan di luar materi dari panitia,” ujarnya.
Juri lainnya, Budi Kurniawan, mengapresiasi upaya peserta
dalam menyampaikan sejarah melalui media Mading 3D.
“Menyampaikan sejarah lewat Mading 3D tidak mudah. Cerita
sejarah itu kompleks, tapi medianya terbatas. Dibutuhkan kedetailan dan
kreativitas. Namun ini langkah luar biasa karena anak muda belajar
berkomunikasi dan menyampaikan sejarah dengan cara yang lebih sederhana dan
mudah dipahami,” tuturnya.
Melalui lomba ini, Disdikbud Kalsel berharap generasi muda
semakin mencintai sejarah dan warisan perjuangan daerah, serta mampu
melestarikannya dengan cara yang kreatif dan relevan dengan zaman.Sumber/MC
Kalsel
