Hikayat Nala Gareng Jadi Adipati Negeri Muara Bubuhan (Episode Ke- 4)


Akhmad Wahyuni, S.Sos., M.IP


Nala Gareng Raup Sampai Kaputing

Cerita Rakyat - Di Negeri Muara Bubuhan nang masih kaya drama itu, matahari masih naik turun seperti biasa, sungai masih mengalir, rakyat masih berjuang hidup, paman pentol, para pedagang sayur, para petani, dan para punggawa Adipati masih beraktivitas seperti biasa tapi satu hal yang belum berubah.

Ilung di sungai (eceng gondok) tetap larut dari hulu ke hilir tapi glondongan kayu jarang terlihat seperti jaman bahelor namun diganti dengan pemandangan gunung hitam berjalan perlahan di sungai hampir setiap saat, namun penduduk negeri Muara Bubuhan kada mendengar lagi adanya bantuan CSR dari perusahaan entah masih ada atau digunakan untuk keperluan lain semisal mambantu orang pesta kawin dengan air merek haliling,.. yang sebenarnya pengadaan air mineral merek haliling ini lebih mahal dari merk air mineral yang selama ini sudah familiar dimasyarakat.

Belum lagi biaya pengambilannya dari negeri lain ongkos jalannya dibebankan pada para punggawa, tapi apa daya ternyata air mineral ini usaha pribadi Yang Dipertuan Agung Kanjeng Gusti Nala Gareng sendiri. Sebenarnya peruntukan dana CSR bukan untuk kebutuhan air mineral melainkan untuk pendidikan, kesehatan, serta fasilitas yang bermanfaat bagi masyarakat. namun demikian kenyataannya itulah kuasa Sang Maha Raja Yang di Pertuan Agung Kanjeng Gusti Nala Gareng.

Kebodohan Kekuasaan Masih Berasa Jadi Raja

1. Nala Gareng: Pemimpin Banyak Gaya, Kurang Isi banyak pencitraan

Adipati Nala Gareng kini makin percaya dirinya sudah setara cendekiawan dunia.
Buku bacaan selalu di tangan, Tara Zagita di kanan, Asmaraman Kho Ping Hoo di kiri.

Cuma masalahnya membaca pun masih patah-patah macam kaset kusut atau mungkin karena gerakan patah patah siap geraaak dari pelatihan rekar (remaja karukan).

Kalau sedang membaca pidato: Kalimat pertama lancar, kalimat kedua mulai serak, dan mulai melipat sambutan, selanjutnya kalimat ketiga… melenceng ke cerita silat Tionghoa…atau cerita masa kecil sampai menjadi Yang Dipertuan Agung Kanjeng Gusti Nala Gareng.

Rakyat tepuk tangan bukan karena kagum, tapi karena kasihan dan para Punggawa senyam senyum saling pandang karena maharitakan dan ada rasa malu alias supan.

Namun di kepala Nala Gareng, dirinya tetap merasa raja:

“Ulun ini pemimpin hebat, unik, penuh gaya literasi, dan akulah aturan!” (Louis XIV versi lokal) dan malah baucap dihadapan para kuli berita kita kadada masalah berapapun dipangkas dana oleh tuan panglima tertinggi, kita siap biar orang manilai siapa nang harat dan siapa nang kuat.

Mungkin merasa kuat karena sederet gelar, padahal dibalik gelarnya yang berderet itu, pada kenyataannya hanya gaya dibanding isi, padahal secara formil dan meteriil, nala gareng tak tahu apa-apa. Nala gareng nampaknya belum tahu bagaimana akhir sebuah kekuasaan pasca revolusi Prancis, disitu ada leher yang berakhir di ujung pisau guillotine …muehehe…

Untungnya…. Nala Gareng belum baca Machiavelli ….hahahahahahahahaha ……kalau mambaca pun Nala Gareng pasti malas karena buku setebal itu satahunan belum tentu tamat dengan kemampuan membacanya yang patah patah itu.


2. Bagong: Raja Penjilat alias Sengkuninya dari Balik Tirai

Dalam memerintah, Nala Gareng tetap didampingi oleh Bagong, panglima besar Staf Khusus, orang yang lidahnya lebih licin dari belut kena minyak goreng cap kelapa sawit. Orang ini berpikiran rakyat negeri muara bubuhan itu awam dalam segala hal mudah aja dibodohi apapun kerjanya semua tetap diam.

Apa pun Nala Gareng bilang,
Bagong menjawab:

“Mantap sekali Adipati! Luar biasa pemikiran pian!” tuan ku memang cerdas segala galanya apalagi kalau sudah mamikirakan untung.

Mun Nala Gareng salah,
Bagong bilang:

“Itu bukan salah… itu strategi tingkat dewa!” yang akan bisa mengecoh masyarakat Negeri Muara bubuhan.

Mun Nala Gareng bingung,
Bagong menjawab:

“Itu bukan bingung… itu sedang mikir mode kontempelasi sehingga otak rakyat kada mencapai!” padahal yaaa… memang bingung dan handak batakun lawan para perdana Mentri gengsi..

Pasukan staf khusus lain ikut manggut-manggut macam burung balam. Kaya itik angsa mancari makanan. Ada yang cuma tugasnya tepuk tangan, ada yang tugasnya mengangguk, ada yang tugasnya menyebar pujian, ada yang mengawasi gawian, mengkoordinir tukang dan maapel tukang bila Nala Gareng handak datang maninjau proyek untuk mahitung persentasi kemajuan gawian. Sahari saparsen.....gkgkgk...

Pokoknya:
Semakin sedikit akal, semakin banyak tepuk tangan, Nala Greng senang betul karena merasa menang kawa mambunguli masyarakat Negeri Bubuhan.

3.Para Menteri: Hidup Segan, Wibawa Pun Hilang

Di istana pemerintahan Muara Bubuhan, sebenarnya ada para menteri....meski kadang kejeniusan diatas rata rata karena bisa membuktikan pekerjaan dengan memperoleh banyak penghargaan. Tapi kayak tidak ada saja seperti sapi ditarik dihidung karena takut kehilangan kedudukan.

Tapi ada juga Menteri yang berani dan mencoba memberi nasihat dan berkata:

“Adipati… mungkin kebijakan ini terlalu berisiko bagi tata kelola pemerintahan kita”

Belum sempat selesai, menjelaskan sisi negatif dan positifnya, Bagong langsung melolong:

“Diam sudah! Kalau tidak setuju, berarti tidak sejalan visi misi, itu artinya harus mengangkat bendera putih, that’s all!”

Menteri pun hanya bisa menatap meja, menatap lantai, menatap nasib.
Mereka jadi hiasan pemerintah, Bukan pembantu negara lagi, bukan lagi memikirkan kemajuan Negeri Muara Bubuhan tetapi memikirkan bagaimana agar tetap jadi menteri.

Akhirnya rakyat pun berkata:

“Menteri ada kada guna… yang benar-benar berkuasa cuma Bagong lawan gengnya.” bahkan Bagong dan gengnya ini berani menjiplak tanda tangan Adipati Nala Gareng demi memuluskan rencana busuknya.

Dan ......itulah kenyataannya....

4. Semua Pekerjaan Pembangunan Negeri: Sudah Jadi Rezeki Golongan

Di negeri Muara Bubuhan, pembangunan negeri bukan lagi urusan profesional. Bukan lagi berdasarkan kemampuan, bukan lagi berdasarkan keadilan dan akuntabilitas,, dan keterbukaan Publik tapi berdasarkan “Sesuai kah dengan selera Bagong?” karena bagi Bagong, roda pemerintahan itu berawal dari bercocok tanam, dan saat ini lagi panen… mueheheheee….

Mun sesuai geng mereka → dapat.
Mun kada → cari kerja lain aja.

Ada pembangunan jalan,
pembangunan gedung,
pembangunan program besar…
Pokoknya tiap proyek harus ada jejak “restu Bagong”.atas perintah Adipati Nala Gareng.

Rakyat whispering di warung kopi:

“Tender ni kaya arisan, cuma bedanya yang menang sudah diatur dari awal.”bahkan Firma firmanya pun pinjam dari luar kadipaten

5. Bansos: Senjata Pemikat, Racun Halus Kekuasaan

Nah ini yang paling tajam:
Bansos.

Tiada bulan tanpa bansos,
Tiada minggu tanpa bansos,
Tiada acara tanpa foto Nala Gareng senyum penuh harapan palsu.

Rakyat dikasih gula batu berupa bansos, diberikan janji-janji dengan dalil pemerataan pembangunan, dananya dikuras dari dana Negeri tapi dibuat sandiwara seolah olah bantuan Adipati Nala Gareng.

Padahal di balik itu, ada urusan keluarga, urusan kantong pribadi, dan urusan geng istana dari kecil sampai ganal Raup semua tanpa ada sisa dan para Firma lokal pun banyak alih Profesi jadi petani, berkebun, karyawan ngantar surat, dan madam mendulang emas demi anak isteri.

Bansos dibagikan ke rakyat sebagai alat bius, padahal keuntungan besar mengalir ke lingkaran kekuasaan bak air bah banjir dari segala arah penjuru kementrian.

6. Negeri Muara Bubuhan: Lelucon yang Tidak Lucu Lagi

Negeri Muara Bubuhan pun perlahan berubah jadi panggung lawak tragis.

Yang ketawa: penguasa, yang terdiam para pejabat tak berdaya. yang bakal menderita: rakyat kecil yang tak tahu apa-apa.

Ada rakyat yang masih sabar,
Ada yang mulai sadar,
Ada yang hanya bisa mengeluh,
Ada yang hanya bisa berkata: disandang ae dahulu sampai kena mamilih lagi dapat rejeki salambar warna merah....

“Sabar sudah, ini ujian… atau mungkin kesalahan kita dulu milih.”

Muara Bubuhan jadi negeri unik:
Banyak acara, tapi sedikit hasil.
Banyak pidato, tapi minim makna.
Banyak janji, tapi tipis kenyataan.

Penutup Episode Ini

Maka begitulah kelanjutan hikayat:
Nala Gareng makin haus kuasa,
Bagong makin lihai mengatur,
Para menteri makin tak berarti,
Rakyat terus jadi korban kesabaran.

Namun setiap hikayat takkan abadi,
setiap kekuasaan tidak selamanya,
rakyat suatu hari pasti akan sadar:
bahwa negeri bukan milik seorang adipati, tapi milik seluruh rakyat Muara Bubuhan.

Episode ini belum tamat…
Karena kisah pemerintahan macam ini biasanya panjang dan penuh drama. Tinggal menunggu… 
kapan akal sehat akan kembali.

Bersambung......


Oleh: Akhmad Wahyuni, S.Sos., M.IP
Pensiunan ASN pada Pemerintah Kabupaten Barito Kuala, Alumni APDN Kota Banjarbaru dan Magister Ilmu Pemerintahan Univ. Lambung Mangkurat.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال