Hikayat Nala Gareng Jadi Adipati Negeri Muara Bubuhan (Episode 5) : “Balik Modal Sampai Akar Bakau”

Akhmad Wahyuni, S.Sos., M.IP

CERITA RAKYAT- Maka tersebutlah Al kisah di Negeri Muara Bubuhan, yang biasanya adem tentrem, harmonis dan penuh kedamaian serta masyarakat yang agamis, religius, tatkala Adipati Nala Gareng telah naik tahta genap seratus hari. Seratus hari yang bagi rakyat Negeri Muara bubuhan terasa seperti seratus musim kemarau panjang tanpa hujan meski pun hujan tetap serasa kering kerontang karena banyak yang tidak kebagian kerjaan dan kembali mengerjakan lahan pertanian yang memang menjadi tumpuan harapan masyarakat Negeri.

Namun bagi sang Adipati Nala Gareng terasa seperti baru semalam duduk di singgasana empuk berlapis janji Palsu yang tak ada niat untuk ditepati, karena merasa dukungan sudah dibeli, dibayar dengan lembaran-lembaran merah yang tak terhitung jumlahnya, infonya sih sekitaran 18 triliun.

Pada suatu pagi yang cerah tapi hatinya Galau dan mendung, Adipati Nala Gareng duduk di balai agung. Di hadapannya terhampar kitab tebal menumpuk tak beraturan berjudul:

“Catatan Pengeluaran Perjuangan Adipati”

Isinya bukan undang-undang, bukan pula kitab kebijaksanaan, juknis maupun juklak melainkan daftar panjang:

Spanduk segede rumah panjang dan lima ribu baliho.
Kaos kampanye warna-warni yang sudah usang.
Nasi bungkus, kopi sachet, rokok filter yang masih belum terbayar.

Sound system sampai memekakkan telinga hantu kuburan dan masih ditagih karena baru dipanjar.
Dan yang paling mahal: janji-janji yang rencananya akan diundi dan tidak pernah terealisasi.

Nala Gareng menghela napas panjang, sampai perutnya yang buncit ikut naik turun.

“Bagong…,” katanya lirih tapi penuh tekanan,
“Yang mana Unda ini jadi Adipati bukan murah, modalnya dibanding dengan modal kawin tujuh turunan.”

Maka muncullah Bagong, kepercayaan sang Adipati, yang otaknya sering telat panas tapi mulutnya selalu duluan bicara bak Sengkuni, atau Haman pembisik paling masyhur pada masa Raja Fir'aun.

“Tenang Pian, yang Mulia Tuan Adipati. Modal itu bukan hilang, cuma belum terkumpul atau pindah tangan alias masih ditangan urang. Tinggal Pian tarik kembali… perlahan-lahan… atau tarik dengan kasar sekalian.” itu tergantung Yang Mulia Tuan Adipati karena semua kuasa sudah digengangaman tangan, apapun yang dikehendaki semuanya gampang bagi Yang Mulia dipertuan Agung Gusti Adipati.

Nala Gareng langsung melek.....tertawa sambil garuk kepala yang tak gatal tak ketinggalan senyum penuh kepalsuan.

“Nah.... yang mana... itu aku suka. Tapi ingat, Bagong, caranya harus sah… sah menurut aku .” dan semuanya jangan sampai ada yang tertinggal dari udang barik sampai udang Galahnya Raup terus.

Strategi Agung: Program Seribu Nama, Nol Manfaat

Maka dirancanglah program agung bernama:

“Gerakan Kesejahteraan Berjenjang Terukur Berbasis Nama Adipati” seolah dana dari kantong sendiri.

Program ini punya tiga ciri utama:
Anggarannya besar lebihannya banyak.
Manfaatnya kecil tapi untungnya Gede.
Namanya panjang tapi Selalu ada jasa Nala Gareng.

Setiap bantuan, sekecil apa pun dari sendok plastik sampai proyek titian wajib dipasang papan bertuliskan:

“Ini Berkat Kebijakan Adipati Nala Gareng” tidak lupa foto dan siaran langsung tik tok, IG, FB.

Kalau titian roboh, tulisannya tetap berdiri. Nala Gareng Hilang seolah lupa, maklum urangnya lain dimuka lain dibelakang alias mblangkon.

Bagong melapor dengan bangga:

“Pian tenang, Adipati. Satu Proyek bisa dibagi jadi lima kegiatan. Lima kegiatan jadi sepuluh perjalanan dinas. Perjalanan dinas bahkan berencana handak bajalan sampai ka Negeri Cina berangkat bersama para pembisik dan tidak ketinggalan sang ibu Suri, padahal Nala Gareng terus menambah jadi… ya Pian tahu sorang lahhhh.” tapi semuanya harus kita yang menggarap tadak boleh digarap orang lain kecuali menjadi tangan kedua atau ke tiga dengan perjanjian dibawah meja....

Nala Gareng mengangguk penuh hikmah palsu, dan merasa tidak berdosa yang penting kantong makin tebal, kan lagi panen...muehehehe....

“Bagong, ku lihat pian ini bodoh, tapi bodoh pian berguna.” dan sangat lincah cermat mencari celah padahal beliau baru saja ngamuk dengan Bagong karena banyak kerjaan yang belum selesai sesuai jadwal jatuh tempo, padahal sudah lewat tahun yang seharusnya tidak ada lagi pekerjaan yang diteruskan namun dilapangan realitanya masih ada banyak kesibukan.

Balas Jasa Tim Sukses: Negeri Jadi Arisan

Tak lupa, datanglah para pendukung lama: Tim Sukses Hulu, Tim Sukses Hilir, Tim Sukses Tengah, dan Tim Sukses yang entah sukses dibagian apa. Namun diantaranya ada juga Pahlawan kesiangan alias Timpakul dimana ada batang timbul disitulah dianya bersandar.

Semua menagih.

“Ingat kah Pian waktu kami pasang baliho di rawa?” tacalubuk sampai pinggang.
“Ingat kah Pian waktu kami bela Pian di warung kopi?” karena Pian kada paham manjawab pertanyaan, Pian bapander....yang mana...yang mana aja...
“Ingat kah Pian waktu kami ribut di kolom komentar?” kami liwar manjawab akan komentar miring mengcounter isu- isu.

Nala Gareng tersenyum, senyum khas orang berutang kekuasaan, dan kada perlu lah bingung karena Maklum Nala Gareng ne kada akan maingat lagi lawan siapa yang berjasa siapa yang bekerja, entah emang kada ingat atau pura - pura kada ingat.

“Tenang bubuhan mu!. Negeri Muara bubuhan ini amat luas. Jabatan memang sempit, tapi bisa dipanjangkan.”

Maka diangkatlah:
Sepupu jauh jadi penasehat dekat
Kawan lama jadi ahli baru padahal otak batu.
Yang tak paham apa-apa jadi koordinator segalanya
Kaka, Ipar, besan, kaluarga, mertua semua diberi peran, jangankan punya kemampuan kadang membacapun sama kaya Nala Gareng

Para punggawa, para Menteri dan Pedemangan Negeri Muara Bubuhan pun ramai oleh rapat -rapat dadakan. tapi sepi oleh hasil, jangan kan hasil pekerjaan baru, yang ada pun banyak terbengkalai belum selesai padahal indikasinya sudah dibayar penuh.

Semar Datang Mengingatkan

Di tengah hiruk-pikuk balik modal, muncullah Semar, tua renta, jalannya pelan, tapi kata-katanya cepat sampai ke hati.

“Gareng,” ujar Semar,

“Kekuasaan itu amanah, bukan ladang tebas bakau. Bukan ladang mencari untung Kalau Pian terus kemaruk, negeri ini bisa karam.” mungkin saja kolap karena di tahun ini kudengar ada devisit anggaran 500 M. Makanya para Menteri kadipaten banyak pusing tujuh keliling karena diberi target penghasilan Negeri Muara Bubuhan sangat tinggi padahal tak ada potensi yang bisa digali .....

Tapi karena Yang Dipertuan Agung Kanjeng Gusti Adipati Nala Gareng sudah memutuskan, dan Adipati Nala Gareng ini memang kada bisa dijelaskan, kada bisa dibari saran, kada bisa dibari masukan maka tetaplah ampun Adipati yang harus jadi dan harus dijalankan maka para menteri hanya bisa siap dan nunduk manggut -manggut namun kadang diluar tetap aja bagarunuman....pusang mamikirakan cara mencapainya.

Nala Gareng tertawa kecil.

“Semar, pian ini ketinggalan zaman, alias kada Up to date, Sekarang zaman investasi politik. Modal harus balik, bahkan harus bahujung gasan persiapan dua kali dan gasan manambah bini...baru mikir rakyat.” dan rakyat pun kada paham jua bisa aja dibodohi dengan kata-kata manis dengan janji manis, bafoto bersama, maninjau bersama padang banjir, atau kita turun kan himek kesah sudah bekerja meski baluman ada anggaran.

Bisa aja digawi badahulu kaya rencana di bawah jembatan layang, biar kada karuan gawiannya, amburadul masyarakat sudah senang bukan main....karena Masyarakat Negeri Muara Bubuhan ne sama aja kadada yang pandai, buktinya semuaan diam aja kada protes, menerima aja apa ujar Unda, apalagi sudah jua disenggol dengan En De Ex. Himung saja, padahal aku bahujung CEO nya orangku jua dan satu hal yang mana perlu pian ingat... Rex non potest peccare !.

Semar menggeleng.

“Kalau semua dipikir balik modal, yang maju bukan negeri, tapi nafsu.”

Namun kata-kata Semar kalah oleh tepuk tangan para penjilat, para Sengkuni alias Haman, yang berdiri di belakang singgasana para penasihat yang pantasnya disebut kelompok mafia yang pandai memanfaatkan kebodohan Yang Dipertuan Agung Kanjeng Gusti Adipati Nala Gareng.

Penutup Episode

Maka berakhirlah episode ini dengan Adipati Nala Gareng yang merasa dirinya paling cerdik, Bagong yang makin percaya diri meski salah arah, dan rakyat Muara Bubuhan yang mulai sadar:

Adipati mereka bekerja keras, bukan untuk negeri, tapi untuk menutup buku utang masa lalu.

Dan sebagaimana hikayat selalu berpesan:

“Jika pemimpin kemaruk, rakus, maka yang kurus bukan anggaran, melainkan harapan rakyat.” yang dipermainkan


Oleh : Akhamad Wahyuni, S.Sos., M.IP

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال