
Ilustrasi lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Sulsel. Foto/dok Basarnas
POSSINDO.COM, Peristiwa – Terungkap misteri data jejak langkah kaki di smartwatch Kopilot Farhan Gunawan yang terhubung ke ponselnya usai ditemukan. Smartwatch tersebut disebut sempat mencatat 13.647 langkah sejak pesawat ATR 42-500 kecelakaan di Gunung Bulusaraung, Sulsel, namun Basarnas kini mengungkap asal usul data tersebut.
Dirangkum detikcom, Rabu (21/1/2026), keluarga kopilot Farhan Gunawan sempat mengungkap smartwatch milik Farhan masih terpantau aktif usai pesawat ATR 42-500 jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Perangkat itu bahkan merekam adanya pergerakan langkah kaki yang diduga berasal dari Farhan.
Informasi ini disampaikan oleh pihak keluarga, Pitri Keandedes Hasibuan (30) usai menerima informasi dari adiknya Dian Mulyana Hasibuan yang merupakan pacar dari Farhan Gunawan. Menurutnya, ponsel pintar milik Farhan telah ditemukan di Gunung Bulusaraung dan langsung diserahkan oleh tim SAR kepada pihak keluarga sejak Sabtu (17/1).
"Dia (Farhan) kan ada smartwatch, kalau bisa ada yang melacak smartwatch-nya itu dia pakai yang Galaxy, kayak manalah caranya, supaya ada pertolongan yang cari dia," kata Pitri dilansir detikSulsel, Senin (19/1/2026).
Pitri mengaku smartwatch Farhan teridentifikasi masih aktif berdasarkan pengecekan ponsel korban. Dia berharap temuan itu bisa dijadikan acuan untuk melacak posisi Farhan.
"Karena dari HP dia yang terhubung ke smartwatch-nya itu kan masih bergerak. Kemungkinan kan masih bisa dilacak yah dari situnya," ujar Pitri.
Pitri mengaku kabar ini diterimanya dari adiknya yang saat ini berada di Bulusaraung untuk memantau proses pencarian yang dilakukan oleh tim SAR. Menurut dia, adiknya itu langsung berangkat ke Makassar usai mendapat kabar pesawat ATR 42-50 mengalami kecelakaan.
"(Informasi smartwatch Farhan aktif) Dari adik saya (Dian), kan adik saya di lokasi sana. Iya lagi di sana, naik ke atas gunung," ungkap Pitri.
Basarnas menemukan ponsel milik Kopilot Farhan Gunawan setelah pesawat ATR 42-500 jatuh di kawasan Gunung Bulusarung, Pangkep, Sulawesi Selatan. Tim SAR mengungkapkan momen ponsel Farhan ditemukan. Basarnas mengatakan tim tidak mendengar suara minta tolong atau pergerakan di sana.
"Tim kami yang turun di lokasi dan yang menemukan barang ini itu tidak ada sama sekali mendengar atau ada permintaan tolong suara dan lain sebagainya," ujar Staf Search Mission Coordinator (SMC) Basarnas Arman dilansir detikSulsel, Selasa (20/1/2025).
Arman mengatakan tim pencarian saat itu dibagi dua tim. Satu tim ada di atas tebing dan satu tim lainnya berada di bawah tebing.
"Itu tim yang menuruni tebing. Yang nginap di atas kan masih ada 10 orang. Yang menuruni tebing itu ada 10 orang. Memang tidak ada suara atau permintaan bantuan," terangnya.
Arman menjelaskan ponsel Kopilot Farhan yang ditemukan sempat diserahkan ke pacar korban, namun ponsel tersebut sudah diserahkan ke Polda Sulsel. Dia juga mengakui adanya aktivitas smartwatch Kopilot Farhan seperti yang diklaim oleh keluarga korban.
"Kami tidak bisa mengatakan bahwa itu ada tanda-tanda kehidupan. Tapi melihat dari kondisi ini, kalau dilihat secara ada pergerakan. Untuk memastikan bahwa itu hidup atau seperti apa, kami belum bisa," jelasnya.
"Intinya, hp ini kami serahkan (ke Polda) memang kemarin untuk bisa dibuka kuncinya. Karena locknya nggak bisa dimenuhi. Makanya kami buatkan surat pernyataan (pacar korban) supaya bisa dibawa ke Makassar untuk bisa dibuka," sambungnya.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M Syafi'i meluruskan informasi terkait rekaman langkah kaki di smartwatch milik kopilot pesawat ATR 42-500, Farhan Gunawan. Syafi'i memastikan data langkah kaki tersebut bukan terekam setelah pesawat jatuh, melainkan data beberapa bulan lalu.
"Terkait dengan pergerakan yang dari smartphone, kita sudah dibantu oleh Polda Sulawesi Selatan. Dan yang bersangkutan (pihak keluarga korban) sudah dimintai keterangan," ujar Syafi'i usai rapat bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
"Setelah dibuka, bahwa ternyata rekaman itu di beberapa bulan yang lalu waktu korban masih di Jogja. Dan itu sudah di-clear-kan tadi pagi," sambungnya.
Syafi'i mengatakan keluarga Farhan telah menerima penjelasan tersebut. Namun, dia memahami harapan keluarga yang sempat muncul akibat informasi pergerakan langkah kaki tersebut.
"Dari pihak keluarga juga sudah memahami, dan kita juga memahami perasaan keluarga, makanya itu di-broadcast," tuturnya.
"Mohon doanya saja, kita sudah mengerahkan banyak pesawat, mulai dari pesawat Boeing, ada tiga pesawat helikopter sekarang kita modifikasi cuaca mudah-mudahan cuaca membaik," imbuh Syafi'i.
Sumber: detik.com