![]() |
| Akhmad Wahyuni, S.Sos., M.IP. Foto/IST |
Cerita Rakyat - Maka tersebutlah kisah di Negeri Muara Bubuhan, negeri yang tanahnya subur kaya akan hasil pertanian dan perkebunan, dan letak wilayahnya langsung berbatasan dengan Negeri yang sangat maju, disebut Negeri Bandar Muara Asih.
Pada masa sekarang memerintah Adipati Nala Gareng, dan setelah resmi memerintah berkata dengan sangat sombong dan Arogannya bahwa tidak apa-apa kada banyak dapat dana dari Sang Raja Diraja kalau perlu kada dapat sama sekali, supaya kita dapat malihat siapa yang kuat dan siapa yang lebih harat.. wk..wk...wk dikira Sang Adipati Nala Gareng Memimpin sebuah Negeri Bahaharatan kalo... dan jangan lupa setiap katanya diawali dengan frasa kesayangan:
“Yang mana…”
Orang tua-tua berkata:
“Jika kata lebih panjang dari kerja, maka hasilnya hanya angin belaka.”
Namun Nala Gareng tak gentar, sebab di sampingnya berdiri Geng Bagong, pembisik setia, bodoh pikirannya, namun tinggi keyakinannya.
Babak I — Yang Mana Angan Lebih Dulu Datang
Di balairung agung, Nala Gareng berdiri sambil menunjuk peta besar.
“Yang mana negeri kita harus berpikir besar,
yang mana negeri Muara Bubuhan tak boleh berpikir lokal semata,
yang mana sampah dari Negeri Bandar Muara Asih itu peluang!” kebetulan sekali Negeri Tetangga Bandar Muara Asih dinyatakan sedang dalam Kondisi Darurat Sampah.
Bagong bersama Gengnya mengangguk cepat, lalu berbisik keras bahkan terlalu keras untuk disebut berbisik.
“Betul Paduka! Sampah itu kan cuma barang yang belum menemukan takdirnya!”
Para patih saling pandang.
Salah satu berujar lirih,
“TPS kita haja balum menemukan lokasinya…” dan Kondisi TPA kita pun belum memadai apalagi kalo menampung sampah Negeri lain yang jumlahnya belipat lipat dari jumlah sampah Negeri Muara Bubuhan
Bagong menepuk dada,
“Tenang! Pengalaman itu bisa dipelajari sambil jalan. Kalau jatuh, ya belajar berdiri. Kalau bau, ya belajar menutup hidung.”
Orang bijak bergumam:
“Belum tahu arah angin, sudah ingin berlayar jauh.”
Babak II — Rakyat Jelata dan Ilmu Logika Bagong
Di pasar Muara Bubuhan, di Gardu reot rakyat berkumpul masing-masingnya berbisik
Si Jumin berkata,
“Sampah di rumahku sudah punya RT sendiri.”
Mak Irah menyahut,
“Katanya mau nerima sampah negeri lain. Lah, sampah kita saja belum naik kelas.”
Bagong lewat sambil membawa catatan.
“Bapak-ibu jangan salah paham. Yang penting itu niat. Kalau niatnya besar, sampah ikut besar.”
Si Parman tertawa,
“Logika dari mana itu, Gong?”
Bagong menjawab bangga,
“Ini logika strategis. Kalau gagal, kita bilang masih on proses.”
Rakyat pun bersorak, entah tertawa atau pasrah dan selanjutnya Yang Dipertuan Agung Kanjeng Gusti Nala Gareng pun mengeluarkan titah kepada para Mentri agar segera membangun lokasi penampungan sampah agar dapat menampung sampah dari Negeri Bandar Muara Asih.
“Yang mana…”
Orang tua-tua berkata:
“Jika kata lebih panjang dari kerja, maka hasilnya hanya angin belaka.”
Namun Nala Gareng tak gentar, sebab di sampingnya berdiri Geng Bagong, pembisik setia, bodoh pikirannya, namun tinggi keyakinannya.
Babak I — Yang Mana Angan Lebih Dulu Datang
Di balairung agung, Nala Gareng berdiri sambil menunjuk peta besar.
“Yang mana negeri kita harus berpikir besar,
yang mana negeri Muara Bubuhan tak boleh berpikir lokal semata,
yang mana sampah dari Negeri Bandar Muara Asih itu peluang!” kebetulan sekali Negeri Tetangga Bandar Muara Asih dinyatakan sedang dalam Kondisi Darurat Sampah.
Bagong bersama Gengnya mengangguk cepat, lalu berbisik keras bahkan terlalu keras untuk disebut berbisik.
“Betul Paduka! Sampah itu kan cuma barang yang belum menemukan takdirnya!”
Para patih saling pandang.
Salah satu berujar lirih,
“TPS kita haja balum menemukan lokasinya…” dan Kondisi TPA kita pun belum memadai apalagi kalo menampung sampah Negeri lain yang jumlahnya belipat lipat dari jumlah sampah Negeri Muara Bubuhan
Bagong menepuk dada,
“Tenang! Pengalaman itu bisa dipelajari sambil jalan. Kalau jatuh, ya belajar berdiri. Kalau bau, ya belajar menutup hidung.”
Orang bijak bergumam:
“Belum tahu arah angin, sudah ingin berlayar jauh.”
Babak II — Rakyat Jelata dan Ilmu Logika Bagong
Di pasar Muara Bubuhan, di Gardu reot rakyat berkumpul masing-masingnya berbisik
Si Jumin berkata,
“Sampah di rumahku sudah punya RT sendiri.”
Mak Irah menyahut,
“Katanya mau nerima sampah negeri lain. Lah, sampah kita saja belum naik kelas.”
Bagong lewat sambil membawa catatan.
“Bapak-ibu jangan salah paham. Yang penting itu niat. Kalau niatnya besar, sampah ikut besar.”
Si Parman tertawa,
“Logika dari mana itu, Gong?”
Bagong menjawab bangga,
“Ini logika strategis. Kalau gagal, kita bilang masih on proses.”
Rakyat pun bersorak, entah tertawa atau pasrah dan selanjutnya Yang Dipertuan Agung Kanjeng Gusti Nala Gareng pun mengeluarkan titah kepada para Mentri agar segera membangun lokasi penampungan sampah agar dapat menampung sampah dari Negeri Bandar Muara Asih.
Maka dipanggilah Mentri Mentri Terkait agar segera melaksanakan Titah karena kalau Nala Gareng sudah berkehendak aturan akan dibuat sendiri. Tapi sulit bagi Para Menteri melaksanakan Titah karena diluar Nalar, tanpa Dasar hukum bahkan belum ada pembicaraan tingkat tinggi dan belum ada Keputusan tentang lokasi, tidak ada anggaran, tidak ada study Kelayakan, dan tidak ada Detail Engineering Design (DED) maka pastilah akan berhadapan dengan APH, maka Adipati Nala Gareng marah dan mengeluarkan Titah.
Titah bahwa siapa yang menentang akan didepak dari posisinya, maka terjadilah beberapa Menteri jadi Korban kebijakan sampah. Tidak sampai disitu Nala Gareng pun bersama Geng Bagong lansung bekerja mengumpulkan banyak pekerja beratus-ratus orang dari keluarga dan pendukungnya membuat tempat pembuangan akhir sampah di sebuah kademangan Telabang Rumbih...dan sampai pada akhirnya kademangan itupun dilanda banjir maka pembangunan tempat sampah itu pun terendam dan mangkrak entah bagaimana nasib para Menteri penanggung jawab karena harus membayar pekerjaan yang tak ada hasilnya.
Di Gardu Jumin bertanya dengan temannya kaya apalah Tuan Adipati ni kada pernah lagi bapander tentang sampah ingat lah masih Sidin ???
Si Parman manjawab: Beeeh... kaya kada tahu haja nyawa lawan Gareng ....kada nya maingat lagi ah....duit maka am banyak banar haaabis.....gkgkgkgk...
Adipati Nala Gareng sangat bersemangat dalam mewujudkan keinginannya. Menurutnya itu adalah perintah dari Tuanku Raja pemimpin tertinggi, padahal yang sebenarnya adalah Adipati Nala Gareng ingin mengambil hati Tuanku Raja supaya dapat nilai bahwa Nala Gareng adalah Adipati yang sangat pandai dan terampil, dan selalu jadi contoh sehingga berharap dipemilihan mendatang Kanjeng Gusti Adipati Nala Gareng bisa dilirik untuk mendampingi Tuan Raja di periode berikutnya.....
Babak III — Yang Mana Sidak Harus Jauh
Suatu pagi, Nala Gareng berseru:
“Yang mana aku akan sidak,
yang mana sidak itu bukti kerja,
yang mana makin jauh tempatnya, makin kelihatan sibuknya!”
Bagong mengacungkan tangan,
“Setuju Paduka! Kalau sidak di negeri sendiri, nanti ketahuan masalahnya.”
Maka rombongan berangkat ke Negeri Bandar Muara Asih.
Ajudan berbisik,
“Paduka, ini bukan wilayah kita.”
Nala Gareng menjawab mantap,
“Yang mana kepemimpinan itu lintas batas.”
Bagong menimpali,
“Betul! Masalah orang lain lebih aman untuk dimainken.”
Maka dimarahilah pejabat negeri orang,
sementara kamera merekam,
dan rakyat Muara Bubuhan menonton dari kejauhan.malihat Nala Gareng berdiri dengan Pedenya diatas sampah pinggir sungai sambil berucap bahwa sungai menyempit karena tumpukan kayu limbah pekerja Negeri tetangga, berakibat banjir di Negeri Muara Bubuhan dan dijawab lagi oleh Rakyat Negeri Tetangga emang kami takut? dan ini kerjaan kami sejak ente belum lahir pun kami udah kerja dipinggiran sungai ini dan ini pekerjaan ini sudah turun temurun, terserah ente mau apa kami tunggu tindak lanjutnya!! Karena tekanan publik yang begitu besar.... nala gareng pada akhirnya kelunyuk-kelunyuk minta maaf...
Babak IV — Panen Hujatan Bertubi-tubi
Hari berganti, hujatan pun datang.
Media menulis, rakyat mencibir.
Nala Gareng menghela napas,
“Yang mana rakyat belum paham visi besar.”
Bagong mengangguk serius,
“Iya Paduka. Rakyat itu biasanya paham belakangan, setelah masalahnya numpuk.”
Orang tua-tua mengelus jenggot:
“Pemimpin yang selalu menjelaskan, biasanya lupa menyelesaikan.” karena pemimpin yang biasanya pencitraan hanyanlah omon omon.
Babak V — Penutup yang Tidak Menutup Apa-Apa
Maka dalang tidak menurunkan kelir, gamelan belum berhenti, dan cerita belum juga usai. Sebab di Negeri Muara Bubuhan, tak ada perkara yang benar-benar selesai, hanya berpindah bab.
Nala Gareng masih duduk di singgasananya, mengusap dagu sambil bersabda:
“Yang mana semua ini hanyalah permulaan,
yang mana hujatan itu bagian dari proses,
yang mana hasil itu urusan nanti.”
Bagong mengangguk paling keras,
“Benar Paduka! Kalau hasil datang belakangan, kita bisa terus di depan.”
Para patih diam.
Bukan karena setuju,
melainkan karena tak tahu harus memulai dari mana untuk membetulkan yang sudah terlanjur bengkok dan dipimpin oleh pendekar mabuk.
Di Gardu Jumin bertanya dengan temannya kaya apalah Tuan Adipati ni kada pernah lagi bapander tentang sampah ingat lah masih Sidin ???
Si Parman manjawab: Beeeh... kaya kada tahu haja nyawa lawan Gareng ....kada nya maingat lagi ah....duit maka am banyak banar haaabis.....gkgkgkgk...
Adipati Nala Gareng sangat bersemangat dalam mewujudkan keinginannya. Menurutnya itu adalah perintah dari Tuanku Raja pemimpin tertinggi, padahal yang sebenarnya adalah Adipati Nala Gareng ingin mengambil hati Tuanku Raja supaya dapat nilai bahwa Nala Gareng adalah Adipati yang sangat pandai dan terampil, dan selalu jadi contoh sehingga berharap dipemilihan mendatang Kanjeng Gusti Adipati Nala Gareng bisa dilirik untuk mendampingi Tuan Raja di periode berikutnya.....
Babak III — Yang Mana Sidak Harus Jauh
Suatu pagi, Nala Gareng berseru:
“Yang mana aku akan sidak,
yang mana sidak itu bukti kerja,
yang mana makin jauh tempatnya, makin kelihatan sibuknya!”
Bagong mengacungkan tangan,
“Setuju Paduka! Kalau sidak di negeri sendiri, nanti ketahuan masalahnya.”
Maka rombongan berangkat ke Negeri Bandar Muara Asih.
Ajudan berbisik,
“Paduka, ini bukan wilayah kita.”
Nala Gareng menjawab mantap,
“Yang mana kepemimpinan itu lintas batas.”
Bagong menimpali,
“Betul! Masalah orang lain lebih aman untuk dimainken.”
Maka dimarahilah pejabat negeri orang,
sementara kamera merekam,
dan rakyat Muara Bubuhan menonton dari kejauhan.malihat Nala Gareng berdiri dengan Pedenya diatas sampah pinggir sungai sambil berucap bahwa sungai menyempit karena tumpukan kayu limbah pekerja Negeri tetangga, berakibat banjir di Negeri Muara Bubuhan dan dijawab lagi oleh Rakyat Negeri Tetangga emang kami takut? dan ini kerjaan kami sejak ente belum lahir pun kami udah kerja dipinggiran sungai ini dan ini pekerjaan ini sudah turun temurun, terserah ente mau apa kami tunggu tindak lanjutnya!! Karena tekanan publik yang begitu besar.... nala gareng pada akhirnya kelunyuk-kelunyuk minta maaf...
Babak IV — Panen Hujatan Bertubi-tubi
Hari berganti, hujatan pun datang.
Media menulis, rakyat mencibir.
Nala Gareng menghela napas,
“Yang mana rakyat belum paham visi besar.”
Bagong mengangguk serius,
“Iya Paduka. Rakyat itu biasanya paham belakangan, setelah masalahnya numpuk.”
Orang tua-tua mengelus jenggot:
“Pemimpin yang selalu menjelaskan, biasanya lupa menyelesaikan.” karena pemimpin yang biasanya pencitraan hanyanlah omon omon.
Babak V — Penutup yang Tidak Menutup Apa-Apa
Maka dalang tidak menurunkan kelir, gamelan belum berhenti, dan cerita belum juga usai. Sebab di Negeri Muara Bubuhan, tak ada perkara yang benar-benar selesai, hanya berpindah bab.
Nala Gareng masih duduk di singgasananya, mengusap dagu sambil bersabda:
“Yang mana semua ini hanyalah permulaan,
yang mana hujatan itu bagian dari proses,
yang mana hasil itu urusan nanti.”
Bagong mengangguk paling keras,
“Benar Paduka! Kalau hasil datang belakangan, kita bisa terus di depan.”
Para patih diam.
Bukan karena setuju,
melainkan karena tak tahu harus memulai dari mana untuk membetulkan yang sudah terlanjur bengkok dan dipimpin oleh pendekar mabuk.
Oleh : Akhmad Wahyuni, S.Sos., M.IP.
Penulis merupakan pensiunan ASN di lingkup Pemerintah Daerah Kabupaten Barito Kuala, Alumni APDN Banjarbaru dan Program Magister Ilmu Pemerintahan Univ. Lambung Mangkurat.
Tags
Cerita Rakyat
