![]() |
| Warung Lalapan sederhana Pak Jhoen setiap sore hingga larut malam dipenuhi pelanggan dari warga Pulang Pisau hingga luar kota. Foto/ Andika |
PULANG PISAU- Setiap sore hingga larut malam, aroma bawang goreng dari sambal bawang dan pedas cabe yang menguar selalu menjadi penanda dimulainya kesibukan di Warung Lalapan Pak Jhoen, yang berada di pertigaan Jalan Tinggang, Menteng, Pulang Pisau.
Di balik wajan yang beradu dengan minyak panas, ada sosok Herianto, pria 37 tahun asal Mojokerto yang lebih dikenal para pelanggannya sebagai Pak Jhoen. Penampilannya memang sederhana, tak berbeda jauh dari pedagang lalapan pada umumnya, tetapi perjalanan hidup yang membawanya ke balik meja gorengan itu jauh dari kata biasa.
Tahun 2006, Herianto hanyalah seorang tukang bekerja pada proyek-proyek bangunan di Bali. Upahnya saat itu pas-pasan, hidupnya sekadar bekerja, lalu selesai. Setiap sore, ia duduk sendiri di pinggir sungai, memandangi aliran air yang tak pernah berhenti.
“Saya pikir, Nabi dulu berdagang. Kenapa saya tidak?” kenangnya.
Kalimat itu bukan sekadar keresahan, tetapi titik mula keberaniannya bermimpi. Namun perjalanan untuk mewujudkannya tak semudah langkah meninggalkan sungai itu.
Kemudian ia bertemu kakak sepupunya yang punya warung makan dan ikut bekerja disana. Meski saat itu ia hanya digaji 250 ribu per bulan. Tapi Herianto melihat sesuatu yang lebih berharga daripada uang: kesempatan belajar.
Dari mengiris bawang hingga melayani pelanggan, ia menyerap semuanya. Ia tidak hanya bekerja, ia mengamati, memikirkan ritme usaha, dan perlahan menanamkan mimpi membuka warung sendiri.
Pada 2009, ia pindah ke Pulang Pisau, bekerja di rumah makan milik keluarga. Di sinilah ia kembali belajar banyak hal: cara menjaga rasa, menghitung stok, sampai memahami selera pelanggan, khususnya lidah orang Pulang Pisau.
Mimpi membuka usaha sendiri sudah begitu dekat. Namun hidup punya caranya sendiri. Modal 10 juta yang diberikan orang tua harus ia pinjamkan ke saudara. Dan di tengah masa muda yang penuh perubahan, ia justru bertemu seorang perempuan yang kemudian menjadi istrinya.
“Saya akhirnya menikah dulu sebelum buka usaha,” katanya sambil tersenyum kecil sambal mengingat kisah getir masa masa perjuangan dulu.
Nama Pak Jhoen sendiri terlahir dari gabungan nama ayahnya, Mujiono, dan panggilan almarhum mertuanya, Mak Jhoen. Tanpa sengaja, pelanggan mulai memanggilnya begitu. Dan nama itu bertahan, menjadi identitas.
“Saya percaya, setiap penurunan pasti disusul kenaikan.”
Di saat harga bahan pokok turun, ia justru menambah stok—bertaruh dengan harapan. Usahanya perlahan bangkit, meski PPKM 2021 sempat memukul kembali. Ia bernegosiasi agar warung bisa buka sampai malam. Ia buka layanan antar. Ia mencari celah bertahan dan ia berhasil bertahan.
Hari ini, Warung Lalapan Pak Jhoen melayani 150–200 porsi setiap hari. Menu favoritnya tetap sama: lalapan ayam dengan sambal Lamongan khas racikan tangan Herianto sendiri, dengan rasanya berkarakter .
“Kunci bertahan itu rasa. Harga boleh naik, tapi rasa tidak boleh berubah,” ujarnya.
Ia memasak semua menu secara dadakan. Pelanggan boleh memilih tingkat pedas. Selain lalapan, tersedia juga bakso dengan harga ramah kantong. Tak ada yang berlebihan, semua dibuat sederhana, dan justru itulah kekuatannya.
“Bekerjalah sambil berpikir, bukan berpikir sambil bekerja. Jangan jadi orang pintar, jadilah orang yang mengerti.”Ketekunan yang Menghidupkan Harapan
Perjalanan Herianto bukan kisah besar, tetapi justru itulah yang membuatnya berarti. Ia membuktikan bahwa mimpi bisa tumbuh dari hal-hal paling sederhana, bahkan dari renungan seseorang di pinggir sungai.
Dari seorang tukang proyek, ia kini menjadi penggerak UMKM lokal yang memberi pekerjaan, menyajikan makanan, dan menyebarkan semangat untuk tak menyerah.
Warung Lalapan Pak Jhoen buka setiap hari pukul 16.30–00.00
Pemesanan: 0812-5414-2146.
Renungan Sunyi yang Mengubah Hidup
![]() |
| Herianto, pemilik Warung Lalapan Pak Jhoen, sosok sederhana yang membangun usahanya dari perjuangan panjang. Foto/Andika |
“Saya pikir, Nabi dulu berdagang. Kenapa saya tidak?” kenangnya.
Kalimat itu bukan sekadar keresahan, tetapi titik mula keberaniannya bermimpi. Namun perjalanan untuk mewujudkannya tak semudah langkah meninggalkan sungai itu.
Kemudian ia bertemu kakak sepupunya yang punya warung makan dan ikut bekerja disana. Meski saat itu ia hanya digaji 250 ribu per bulan. Tapi Herianto melihat sesuatu yang lebih berharga daripada uang: kesempatan belajar.
Dari mengiris bawang hingga melayani pelanggan, ia menyerap semuanya. Ia tidak hanya bekerja, ia mengamati, memikirkan ritme usaha, dan perlahan menanamkan mimpi membuka warung sendiri.
Hijrah ke Pulang Pisau Membangun Rumah Makan.
Pada 2009, ia pindah ke Pulang Pisau, bekerja di rumah makan milik keluarga. Di sinilah ia kembali belajar banyak hal: cara menjaga rasa, menghitung stok, sampai memahami selera pelanggan, khususnya lidah orang Pulang Pisau.
Mimpi membuka usaha sendiri sudah begitu dekat. Namun hidup punya caranya sendiri. Modal 10 juta yang diberikan orang tua harus ia pinjamkan ke saudara. Dan di tengah masa muda yang penuh perubahan, ia justru bertemu seorang perempuan yang kemudian menjadi istrinya.
“Saya akhirnya menikah dulu sebelum buka usaha,” katanya sambil tersenyum kecil sambal mengingat kisah getir masa masa perjuangan dulu.
Lahirnya Warung Lalapan Pak Jhoen
![]() |
| Lalapan ayam goreng lengkap dengan sambal pedas racikan Pak Jhoen, sajian sederhana yang menjadi magnet bagi para pelanggan setianya. Foto/Andika |
Tahun 2013, dengan modal seadanya, ia dan istrinya membuka warung tenda kecil. Malam demi malam mereka lewati, bermandikan asap dan minyak panas. Perlahan tapi pasti, tenda itu berubah menjadi lebih luas, kokoh seperti tekad yang membangunnya.
Nama Pak Jhoen sendiri terlahir dari gabungan nama ayahnya, Mujiono, dan panggilan almarhum mertuanya, Mak Jhoen. Tanpa sengaja, pelanggan mulai memanggilnya begitu. Dan nama itu bertahan, menjadi identitas.
Saat Pandemi Mengguncang
Ketika COVID-19 datang, usahanya pun ikut terdampak. Bahkan pendapatan warung makannya anjlok hingga 70%. Salah satu cabang terpaksa ditutup. Tetapi Herianto menolak menyerah. Meski tak ada bonus, ia tetap menggaji empat karyawannya.“Saya percaya, setiap penurunan pasti disusul kenaikan.”
Di saat harga bahan pokok turun, ia justru menambah stok—bertaruh dengan harapan. Usahanya perlahan bangkit, meski PPKM 2021 sempat memukul kembali. Ia bernegosiasi agar warung bisa buka sampai malam. Ia buka layanan antar. Ia mencari celah bertahan dan ia berhasil bertahan.
Rasa yang Tak Pernah Berkhianat
![]() |
| Bakso baru dengan kuah hangat dan aroma rempah khas, siap memanjakan lidah pelanggan Warung Pak Jhoen. Foto/Andika |
Hari ini, Warung Lalapan Pak Jhoen melayani 150–200 porsi setiap hari. Menu favoritnya tetap sama: lalapan ayam dengan sambal Lamongan khas racikan tangan Herianto sendiri, dengan rasanya berkarakter .
“Kunci bertahan itu rasa. Harga boleh naik, tapi rasa tidak boleh berubah,” ujarnya.
Ia memasak semua menu secara dadakan. Pelanggan boleh memilih tingkat pedas. Selain lalapan, tersedia juga bakso dengan harga ramah kantong. Tak ada yang berlebihan, semua dibuat sederhana, dan justru itulah kekuatannya.
Sebagai pelaku UMKM yang memulai dari nol, ada satu harapan sederhana untuk pemerintah: “Banyak taman dibangun, tapi tempat pedagang lokal masih kurang.” Untuk anak muda yang hendak memulai usaha, pesannya pelan tetapi menancap:
“Bekerjalah sambil berpikir, bukan berpikir sambil bekerja. Jangan jadi orang pintar, jadilah orang yang mengerti.”Ketekunan yang Menghidupkan Harapan
Perjalanan Herianto bukan kisah besar, tetapi justru itulah yang membuatnya berarti. Ia membuktikan bahwa mimpi bisa tumbuh dari hal-hal paling sederhana, bahkan dari renungan seseorang di pinggir sungai.
Dari seorang tukang proyek, ia kini menjadi penggerak UMKM lokal yang memberi pekerjaan, menyajikan makanan, dan menyebarkan semangat untuk tak menyerah.
Warung Lalapan Pak Jhoen buka setiap hari pukul 16.30–00.00
Pemesanan: 0812-5414-2146.
Penulis : Andika
Editor : Dedy
Grafis : Rohit
Editor : Dedy
Grafis : Rohit
Tags
UMKM



