
Warisan Kolonial Hindia Belanda, Begini Sejarah Panjang Sematan Gelar Haji Bagi Jemaah.Foto/Finetiks
POSSINDO.COM, Nasional – Di Indonesia, seseorang yang telah menunaikan ibadah haji sering kali mendapat gelar di depan namanya, yakni Haji bagi laki-laki dan Hajah bagi perempuan. Bahkan, tak jarang seseorang disapa "Pak Haji" atau "Bu Haji" usai menunaikan ibadah tersebut. Namun, siapa sangka bahwa gelar ini ternyata bukan bagian dari syariat Islam maupun aturan resmi dari Kerajaan Arab Saudi. Kebiasaan ini merupakan warisan dari masa kolonial Hindia Belanda.
Sejarah mencatat, dua abad lalu, pergi haji bukan hanya sebatas dilihat dari sudut pandang bisnis, ibadah atau spiritual, namun juga dari sudut pandang politik.
Alasannya, karena para jamaah haji asal Indonesia kerap "berulah" usai pula
Aqib Suminto d
Pemikiran seperti ini juga dimunculkan saat Indonesia dijajah Inggris lewat Gubernu
Meski begitu, tulis Dien Madjid dala
Latar belakang aturan ini sebenarnya berangkat dari ketakutan dan sikap traumatis pemerintah Hind
Apabila ada pemberontakan, maka pemerintah akan langsung menangkap orang bergelar haji di suatu daerah. Ini tentu lebih efektif dan efisien dibanding harus mencari dalang dari suatu pemberontakan. Sebab, dalam pikir kompeni, pemberontakan sudah pasti dipelopori jamaah haji.
Dari sinilah, asal-usul penyebutan gelar haji di Indonesia. Sejak aturan tersebut, pemerintah kolonial sama sekali tidak mengendurkan pengetatan itu. Di abad ke-20, ketika ajaran Islam tersiar dari Makkah ke Indonesia, mereka tetap mengawasi ketat eks-jamaah haji. Sayangnya, arus dekolonisasi di Indonesia pasca-kemerdekaan tidak melunturkan panggilan politis tersebut. Alhasil, panggilan itu tetap terwariskan lintas generasi.
Sumber: cnbcindonesia.com